Perdana Digelar, Gebyar Semaken Kenang Pangeran Diponegoro
Budaya

Perdana Digelar, Gebyar Semaken Kenang Pangeran Diponegoro

Kalibawang,(kulonprogo.sorot.co)--Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) menggelar acara Gebyar Semaken di Pedukuhan Semaken, Banjararum, Kecamatan Kalibawang. Acara yang dihelat sejak Kamis (09/11) kemarin hingga Sabtu (11/11) besok merupakan wujud peringatan 232 tahun Pangeran Diponegoro yang lahir pada 11 November 1785 lalu.

Kiprahnya melawan penjajah kolonial Hindia Belanda pada waktu itu merupakan sebuah pelajaran yang wajib diteladani oleh seluruh generasi muda. Terlebih lagi, Kulon Progo, tepatnya di Semaken  sempat menjadi saksi gigihnya pangeran dari Bumi Mataram ini menantang para penjajah.

Ketua Patra Padi, Roni Sodewo mengungkapkan, bahwa Diponegoro pernah berjuang di wilayah Semaken sejak tahun 1826 hingga 1828. Meski akhirnya Diponegoro tertangkap di Magelang pada 1830, perjuangannya untuk lepas dari cengkeraman penjajah membuktikan bahwa ia adalah sosok yang tangguh dan berani.

"Ini justru acara peringatan Pangeran Diponegoro yang pertama kali di gelar di Kulon Progo. Kami berharap, dengan digelarnya acara ini di Semaken, warga sekitar lebih tahu bagaimana kiprah Diponegoro dulu di sini," ungkap Roni, Jumat (10/11/2017).

Ia menyebut, dalam kegiatan untuk memperingati Diponegoro tersebut, terdapat beberapa rangkaian acara meliputi pameran tosan aji atau pusaka, pameran batu, pameran peta-peta kuno perjuangan gerilya Diponegoro, lomba mewarnai hingga pementasan berbagai kesenian dari kelompok kesenian setempat. 

"Sebagai puncak acara, akan ada pagelaran Wayang Diponegoro dengan lakon Diponegoro Winisudo. Selain itu kami juga akan ada napak tilas perjuangan Diponegoro di Semaken," sambung Roni.

Roni menyebut bahwa Diponegoro merupakan salah satu pemimpin idaman. Diponegoro juga merupakan pahlawan yang memiliki sifat bijaksana, tegas, gigih dan juga pemberani. Roni berharap, ke depannya acara ini bisa menjadi acara rutin tahunan yang digelar oleh Pemkab Kulon Progo.

"Setelah 15 tahun saya mempelajari lebih jauh tentang Diponegoro melalui babad yang beliau tulis sendiri, saya bisa gambarkan bahwa beliau sosok yang jujur, tegas, berani, dan bijaksana. Ia selalu melakukan apa kata hatinya," ungkapnya.

Pada festival kali ini, setidaknya panitia menghabiskan dana sebesar Rp 82 juta yang bersumber dari iuran keturunan Diponegoro serta kerjasama dengan berbagai pihak tanpa menggunakan bantuan dari dinas terkait.

Salah seorang pengunjung asal Sleman, Hany Wijaya (30) asal Sleman mengungkapkan bahwa dirinya baru mengetahui terdapat acara untuk memperingati Diponegoro. Menurutnya, masih banyak hal yang harus ditambah dalam kegiatan ini.

"Ini suatu hal yang bagus, di mana kita bisa mengetahui berbagai hal tentang Diponegoro yang tak ada dalam buku pelajaran. Tapi masih harus dibenahi, semisal peta kuno yang belum ada penerjemahannya sehingga kurang bisa dimengerti," kata dia.