Hari Ini, Angkasa Pura Bakal Bongkar Paksa Rumah Warga
Ekonomi

Hari Ini, Angkasa Pura Bakal Bongkar Paksa Rumah Warga

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Pemrakarsa pembangunan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) yakni PT Angkasa Pura I bakal melanjutkan proses pengosongan lahan pada Senin (04/12) hari ini.  Dalam proses tersebut, warga penolak yang masih bertahan akan diminta untuk meninggalkan rumah mereka. Kemudian sesuai dengan rencana, rumah akan dibongkar paksa untuk diratakan. 

Mereka yang diminta segera meninggalkan rumahnya adalah warga terdampak yang ganti ruginya sudah dibayarkan melalui proses konsinyasi (penitipan) di Pengadilan Negeri (PN) Wates. Namun mereka masih saja menolak pembebasan lahan serta enggan meninggalkan rumahnya.

Agus Pandu Purnama, General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto Yogyakarta berujar bahwa dalam pengosongan hari ini, sejumlah pihak akan dilibatkan mulai dari Dinas Sosial, Dinas Kesehagan, Camat, aparat desa hingga kepolisian.

"Untuk menghindari suasana yang tidak diinginkan, apabila masih ada warga yang menolak kami berencana untuk mengerahkan polwan," ungkap Pandu, Minggu (03/12/2017).

Dilanjutkan Pandu, pihaknya juga sudah menyiapkan sejumlah armada bagi warga terdampak yang ingin mengosongkan rumahnya. PT Angkasa Pura I juga siap membantu seluruh proses pemindahan apabila memang dikehendaki warga. 

"Kami sudah berkoodinasi dengan pemda, ada rusun (rumah susun) yang bisa mereka tempati untuk sementara. Juga disiapkan tempat untuk menempatkan barang-barang mereka,” sambung Pandu.

Pandu berujar, proses pengosongan lahan tersebut merujuk pada surat tugas dari Kejaksaan Tinggi (Kejati). Selain itu, Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan pembangunan bandara. Jokowi menetapkan bahwa bandara NYIA harus sudah beroperasi pada April 2019 besok.

Untuk pengosongan lahan tidak serta merta. Kita sudah jauh-jauh hari bahkan tujuh sampai delapan bulan ke belakang dan memberikan peringatan kepada warga. Tapi warga masih menolak. 20 rumah di Glagah dan 22 rumah di Palihan,”pungkas Pandu.