Kapolres: Aksi Solidaritas Justru Mengarah Pada Provokasi
Peristiwa

Kapolres: Aksi Solidaritas Justru Mengarah Pada Provokasi

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Kapolres Kulon Progo, Ajun Komisaris Besar Polisi Irfan Rifai menilai aksi solidaritas yang dilakukan oleh sejumlah aktivis penolak bandara ketika proses pengosongan lahan atau landclearing bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon merupakan sebuah provokasi.

Irfan menyebut bahwa sebelum kedatangan sejumlah aktivis di wilayah Temon, beberapa warga penolak  yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) sempat menyetujui untuk melepas tanahnya. Mereka juga menyetujui untuk penafsiran ulang (appraisal) seluruh asetnya.

"Jadi pada Senin (04/12) sore, beberapa warga sudah merelakan diappraisal. Tapi setelah aktivis datang, Selasa (05/12) pagi, mereka tidak mau diappraisal lagi," kata Irfan, Rabu (06/12/2017) ditemui di Mapolres Kulon Progo.

Disebut oleh Irfan, sejumlah aktivis yang datang ke Desa Glagah dan Palihan untuk turut dalam aksi solidaritas diundang oleh pesan berantai dan beberapa media sosial. Tak sedikit dari mereka yang bukan anggota aliansi melainkan partisipan. Namun begitu, Irfan enggan menyebutkan media sosial yang menjadi sumbu beredarnya pesan berantai tersebut. 

Ketika dikonfirmasi, Juru Bicara Aliansi Tolak Bandara Kulon Progo, Heronimus Heron mengatakan bahwa tuduhan adanya unsur provokasi dalam aksi solidaritas merupakan hal yang tidak benar. Kehadiran mereka justru untuk mendukung warga.

"Saat kami datang, warga itu sudah menolak sejak awal, selain itu sudah ada pemutusan listrik, penggusuran. Kami datang untuk membela warga," tegas Heron.

Pihaknya juga menilai bahwa yang dilakukan oleh tim pengosongan lahan memang harus dihalangi. Pasalnya, rumah yang dirobohkan adalah milik warga penolak yang masih memegang Sertifikat Hak Milik.

Terkait dengan konsinyasi, Heron menuturkan bahwa hal tersebut bisa terjadi apabila ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Sehingga penolakan yang dilakukan oleh warga membuat konsinyasi antara warga penolak dan PT Angkasa Pura I tidak relevan.

"Warga tidak sepakat, berarti hak masih melekat. Dan kehadiran kami, ingin membantu apa saja yang bisa kami lakukan bagi warga," pungkasnya.