Tentang Penggusuran Lahan oleh Angkasa Pura, Sejumlah Pohon Ditanam
Peristiwa

Tentang Penggusuran Lahan oleh Angkasa Pura, Sejumlah Pohon Ditanam

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Warga penolak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP) beserta relawan melakukan aksi protes pada Sabtu (13/01/2018). 

Bukan dengan cara berorasi dan sebagainya, namun protes kali ini dilakukan dengan cara menanam pohon pisang dan memperbaiki lahan pertanian yang sempat dirusak ketika proses land clearing atau pembersihan lahan beberapa waktu lalu.

"Kegiatan hari ini merupakan bentuk protes kami warga dan relawan karena beberapa hari lalu tanah warga penolak yang memiliki sertifikat dan hak milik telah dirusak oleh PT Angkasa Pura I," ungkap salah seorang koordinator aksi, Ardy Syihab, Sabtu (13/01/2018). 

Dikatakan oleh Ardy, aksi tersebut akan dilaksanakan selama dua hari hingga Minggu (14/01) besok. Seluruh lahan milik warga penolak yang ada di dua desa yakni Desa Palihan dan Desa Glagah akan diperbaiki dan ditanami kembali.  

Selain lahan pertanian milik warga penolak, dalam aksi kali ini warga dan relawan juga memperbaiki sejumlah akses jalan yang sempat diputus oleh PT Angkasa Pura I. Beberapa akses jalan tersebut merupakan akses utama warga untuk beraktivitas setiap harinya.

"Relawan membantu warga secara penuh. Jalan yang diputus juga ikut diperbaiki agar para warga yang berprofesi sebagai petani bisa pergi ke sawah dan sebagainya. Aksi protes tidak harus melulu dengan aksi orasi di kota, penanaman dan perbaikan ini juga protes kami," tambah Ardy.

Salah seorang warga dari Pedukuhan Kragon II, Palihan, Kecamatan Temon, Fajar Ahmadi (44) mengungkapkan bahwa aksi kali ini sekaligus menepis tudingan bahwa relawan yang berjuang bersama dengan warga merupakan provokator.

"Relawan di sini bukan provokator, mereka peduli terhadap warga yang sudah menyatakan menolak sejak lima tahun lalu. Relawan sudah membantu dan salah satu bentuknya dengan aksi ini," kata Fajar.

Dikatakan Fajar, aksi serupa akan terus dilakukan apabila masih terjadi pengruskan terhadap lahan milik warga penolak yang masih berstatus hak milik warga. Pasalnya dengan bertani dan menanam, warga akan terus hidup dan melawan.

"Pohon roboh bukan berarti kami kalah. Kalau nanti  (land clearing) lebih nekat maka kami juga akan lebih semangat menanam. Bertani adalah mata pencaharian kami," pungkas dia.