Melihat Lahan Cabai yang Disulap Jadi Taman Bunga Matahari
Wisata

Melihat Lahan Cabai yang Disulap Jadi Taman Bunga Matahari

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Berburu tempat selfie yang belum pernah dikunjungi seperti menjadi gaya hidup baru untuk memenuhi kebutuhan posting beragam media sosial. Mulai dari tempat selfie dengan latar belakang lanskap panorama perbukitan hingga lautan  pun memiliki daya tarik bagi masyarakat terutama kawula muda.

Potensi itupun ditangkap oleh salah seorang ibu rumah tangga asal Pedukuhan Glagah, Glagah, Kecamatan Temon bernama Triantini (43). Melihat kesuksesan taman bunga matahari di kawasan Sanden, Kabupaten Bantul, ibu dua orang anak ini menyulap lahan tanam cabai yang ia miliki menjadi taman bunga matahari.

Mengandalkan lahan berpasir dengan ukuran 50 meter x 10 meter, tanaman bunga matahari menjadi primadona baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah sejak awal tahun 2018 lalu. Terlebih letaknya yang berada di pesisir membuat wisatawan bisa megunjungi tempat wisata pantai tanpa harus menempuh jarak yang lebih jauh.

"Sebenarnya kemarin itu ingin menanam cabai, tapi karena biaya perawatannya lebih mahal, kemudian saya berspekulasi menanam bunga matahari berharap bisa sukses seperti yang ada di Bantul," ungkap Triantini, Minggu (11/02/2018). 

Bermodalkan uang Rp 3 juta untuk membeli bibit bunga matahari, kini Triantini bisa meraup untung berlipat. Ketika hari libur tiba, setidaknya terdapat seratusan pengunjung yang bakal memadati taman miliknya. Sedangkan pada hari biasa, puluhan pengunjung juga masih mendatangi lokasi tersebut. 

"Untuk tiket masuknya cuma Rp 5 ribu untuk biaya perawatan, sedangkan bayar parkirnya sukarela. Saya juga menyediakan bibit bunga matahari dengan harga bervariasi mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu," kata dia.

Untuk perawatan, lanjut Triantini, memang pada awalnya bunga matahari harus rajin diberi pupuk seperti merawat tanaman cabai, pun dengan biaya yang sama. Namun ketika pohon bunga matahari sudah mulai mekar dan berbunga, ia cukup menyiraminya ketika pagi dan sore hari.

Namun begitu, masih saja ada wisatawan yang kurang bijaksana ketika mengunjungi tempat tersebut. Triantini kerap mengeluh ketika menemukan bunga matahari yang dipetik oleh pengunjung, pasalnya hal tersebut membuat pohon bunga busuk.

"Soalnya kalau sudah dipetik pasti pohonnya langsung busuk. Sebenarnya sudah sering saya ingatkan tapi kadang masih ada saja pengunjung yang kurang bijaksana," sambung dia.

Untuk menyiasati bunga matahari yang mati setelah empat bulan, Triantini mengaku sudah menyiapkan bibit baru yang siap tanam. Menurutnya, menanam bunga matahari lebih menguntungkan ketimbang menanam cabai apabila minat masyarakat untuk berfoto atau sekedar menikmati keindahan pesisir di antara bunga matahari masih terus bertahan bahkan meningkat.

Salah seorang wisatawan asal Yogyakarta, Eka Sulistyaningsih (21) mengaku baru pertama kali mengunjungi tempat tersebut. Penasaran dengan sejumlah foto taman bunga matahari milik Triantini yang tersebar di media soial, ia pun segera mengunjunginya.

"Dulu itu sempat lihat yang di Bantul, tapi belum sempat datang ke sana tapi bunganya sudah mati. Sekarang ada di Glagah kemudian segera ke sini karena tempatnya juga bagus. Fotonya buat koleksi dan sebagian diposting ke media sosial," kata dia.