Lewat Menulis, AksaraKu Yakin Mampu Majukan Kulon Progo
Komunitas

Lewat Menulis, AksaraKu Yakin Mampu Majukan Kulon Progo

Kokap,(kulonprogo.sorot.co)--Sama halnya dengan minat baca, kini minat menulis juga mulai berkurang di tengah-tengah masyarakat terutama generasi muda. Kebanyakan dari generasi muda terlalu takut untuk menuangkan tulisan pertama mereka.

Sebagian besar generasi muda beranggapan bahwa menulis harus berpatok pada suatu profesi seperti penulis dan sebagainya. Untuk kembali menumbuhkan kreativitas anak muda Kulon Progo, komunitas AksaraKu menyediakan wadah berupa laman dalam jaringan (daring) bernama Aksaraku.com.

Salah seorang pegiat AksaraKu, Bayuarga Damar Sungkowo menyebut bahwa komunitas yang sudah berdiri sejak tahun 2017 lalu ini memang fokus bergerak pada bidang literasi. Salah satu cara yang dilakukan untuk menumbuhkan minat menulis yakni dengan menggelar workshop kepenulisan bagi generasi muda. Kali ini workshop tersebut digelar di kawasan Suaka Margasatwa Waduk Sermo, Kecamatan Kokap, Minggu (10/02/2018).

"Workshop ini memang untuk mengajak generasi muda agar mau menulis. Ada beberapa pemateri warga Kulon Progo  yang memang bergerak di bidang kepenulisan," ungkap Bayu, Minggu (11/02/2018).

Adapun pemateri yang dihadirkan diantaranya Wahyu Naufal, penulis novel 100 Tahun Setelah Aku Mati; Dyar Ayu Budi Kusuma, penulis konten kreatif daring serta Lajeng Padmaratri, pimpinan redaksi pers mahasiswa (Persma) salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta sekaligus editor Aksaraku.com. 

Menurut Bayu, tantangan yang ia hadapi bersama AksaraKu adalah  mengembangkan minat menulis dan membaca  generasi muda, lantaran kedua hal tersebut harus berjalan seiring. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 190 tulisan yang diunggah melalui laman mereka dengan tema budaya, penokohan, kuliner hingga fiksi. Sebab cara ini dianggap mampu untuk menggaungkan nama Kulon Progo kepada dunia luar.

 

"Antusias warga dan anak muda untuk membaca dan menulis yang masih minim masih menjadi tantangan kami. Untuk bisa menulis, orang juga harus terlebih dahulu bisa membaca, terlebih dari itu, orang harus sadar dulu alasan dia menulis,"kata dia yang juga menjadi salah satu pemateri workshop.

Sementara itu, menurut salah seorang pemateri, Wahyu Naufal, penulis pemula terlalu khawatir akan hasil karyanya. Mereka terlalu.resah dan khawatir karyanya tak dibaca. Padahal menurutnya, tak semua karya tulis harus berbentuk fisik dengan dicetak menjadi buku.

"Yang pertama harus dilakukan adalah mulai menulis terlebih dahulu. Kalau sudah kemudian bagikan lewat media apa saja, yang terpenting harus paham bagaimana etika bermedia sosial," kata dia.