Mengintip Serunya Budidaya Lebah Madu Liar dengan Omset Jutaan Rupiah
Ekonomi

Mengintip Serunya Budidaya Lebah Madu Liar dengan Omset Jutaan Rupiah

Kokap,(kulonprogo.sorot.co)--Sejak zaman dahulu, madu memang dikenal memiliki segudang manfaat. Tak hanya bagi kesehatan, madu juga sering dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat kecantikan. Tak ayal banyak orang yang mencoba membudidayakan lebah madu lantaran menjanjikan rupiah yang tak sedikit.

Di tengah banyaknya permintaan kebutuhan madu murni, masih banyak oknum nakal yang nekat memalsukan madu. Imbasnya, khasiat dari madu tak dapat dirasakan, rupiah yang digunakan untuk membeli pun hilang begitu saja.

Namun hal tersebut tak berlaku bagi Heri Kurniawan beserta ayahnya Suparmin, warga Pedukuhan Sekendal, Hargotirto, Kecamatan Kokap. Bagi mereka berdua, kepuasan konsumen merupakan segalanya.

Bapak dan anak ini memang salah satu dari sekian banyak pembudidaya lebah liar. Sekilas tak terlihat perbedaan antara rumah warga lain dengan rumah Heri serta Suparmin. Namun bila dilihat lebih teliti, di samping rumah keduanya, terlihat puluhan kandang penangkaran lebah madu atau yang biasa disebut glodok.

Glodok yang terbuat dari kotak kayu kecil ini berbentuk seperti rumah-rumahan yang dipasang tersangga diantara pepohonan dan tanaman hias. Lebah-lebah madu yang berada di alam sekitar nampak beterbangan keluar masuk melalui celah kecil yang sengaja dibuat pada glodok tersebut.

Taman budidaya lebah madu yang diberi nama Omah Tawon Randu Alas ini terlihat menarik dengan dihias gerbang kayu dan ornamen-ornamen tulisan pada glodok-glodoknya. Lebah yang dibudidayakan berasal dari alam sekitar.

"Saat ini ada sekitar 50 glodok. Saya dan bapak memang sudah dua tahun terakhir membudidayakan lebah madu liar untuk diambil madunya. Pengambilan lebahnya dari alam yang ditempatkan di kandang glodokan, dipelihara secara liar. Jadi dibiarkan mencari makanan saripati bunga langsung di alam," ungkap Hari, Sabtu (14/04/2018).

Letak rumahnya yang berada di kawasan perbukitan memang mendukung budidaya yang dilakukan Hari bersama bapaknya. Selain diletakkan di samping rumah, glodok-glodok miliknya juga diletakkan di dalam hutan yang tak jauh dari rumahnya. Di dalam hutan rakyat tersebut memang masih banyak bunga-bunga yang pollen (serbuk sari) yang nektarnya merupakan sumber makanan bagi lebah madu liar. 

Setiap bulan, dari 50 glodok yang dimilikinya, Heri bisa menghasilkan sekitar 150 botol madu. Ukurannya bervariatif, ada botol dengan ukuran 140 ml, ada pula botol dengan ukuran jumbo dengan daya tampung sekitar 600 ml. Heri menjual madunya melalui media sosial. Selain Kulon Progo dan Yogyakarta, Ia biasa memasarkan madunya hingga Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

"Untuk botol kecil saya jual Rp 50 ribu. Kalau botol besar Rp 200 ribu. Hasilnya sangat lumayan untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga," sambung dia.

Lebih jauh ia menjelaskan, rasa madu yang dihasilkan dari lebah madu atau madu murni pasti tidak akan hanya berasa manis, melainkan akan mengeluarkan rasa pahit. Jenis pepohonan yang sedang berbunga, seperti manggis, durian  serta kopi juga mempengaruhi rasa madu yang dihasilkan.

"Kalau orang yang sudah benar-benar bisa membedakan, bisa merasakan bedanya, kalau dari musim bunga manggis cenderung lebih manis, kalau dari musim bunga durian dan kopi cenderung ada pahitnya,” jelasnya.

Selain menjamin keaslian madu hasil budidayanya, Heri juga mempersilahkan pembeli untuk melihat langsung proses panen. Bahkan pembeli bisa memanen sendiri madu yang dinginkan dari dalam glodok. Ide awal budidaya lebah madu ini berasal dari gerakan Bela-Beli Kulon Progo untuk mengangkat potensi lokal yang ada.

Kalau pembeli yang datang mau memanen sendiri harus dengan tata cara. Misal pakai daun kemerdekaan, untuk mengantisipasi biar lebah tidak menyerang. Ada teknik-tekniknya. Di sini lebah juga tidak diberi makan gula. Maka dari itu saya menyiapkan taman agar kebutuhan madu terpenuhi, imbuhnya.

Agus, salah seorang warga Pengasih mengaku memiliki kesan tersendiri ketika memanen sendiri madu di tempat Heri. Ia juga menjadi bisa memastikan bahwa madu yang dibelinya benar-benar madu asli. Menurutnya, sekarang banyak sekali yang menjual madu tapi tidak bisa dipastikan asli atau tidaknya.

Sehingga saya datang ke sini untuk memastikan dan memanen sendiri. Ternyata rasanya beda dengan yang banyak dijual di pasaran, agak pahit. Saya membeli madu untuk menjaga stamina, karena pekerjaan saya tidak kenal waktu, katanya.