Kulon Progo Maju Bawa Olahraga Tradisional ke Tingkat Nasional
Budaya

Kulon Progo Maju Bawa Olahraga Tradisional ke Tingkat Nasional

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Setelah sebelumnya sukses meraih prestasi di tingkat nasional dan internasional dengan membawakan olahraga tradisional Nglarak Blarak atau Nglabrak, Kulon Progo dipercaya untuk kembali mewakili DIY dalam helatan Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional 2018. Ajang tersebut bakal dilaksanakan pada 6 hingga 9 Juli mendatang di Jambi.

"Permainan ini sudah ada sejak dulu ketika panen raya padi selesai. Kemudian selama tiga bulan kemarin dikonsep ulang dan disesuaikan dengan kaidah-kaidah keolahragaan agar bisa ditampilkan. Obah Owah sendiri merupakan simbol bahwa untuk menuju sebuah perubahan, harus ada suatu pergerakan," ungkap konseptor permainan Obah Owah, Joko Mursito, saat melakukan gladi bersih di kompleks Taman Budaya Kulon Progo, Kamis, (05/07/2018).

Hampir sama dengan Nglabrak, terciptanya permainan ini juga diilhami dari aktivitas dan kearifan lokal masyarakat. Dalam permainan Obah Owah, tema besar yang diangkat ialah aktivitas masyarakat ketika panen raya padi usai. 

Dalam permainan ini, piranti yang digunakan ialah jerami, untaian padi, alu, tenggok hingga orang-orangan sawah. Untuk bisa memainkan permainan ini, masing-masing tim yang terdiri dari empat orang pemain harus berupaya melalui dua tahap pada setiap babaknya.

Pada tahap awal, kedua tim harus berusaha secepat mungkin untuk mengambil alu dan dua lembar sarung. Permainan ini selain seru juga bakal menguras banyak tenaga. Pasalnya pada tahap ini untuk bisa mendapatkan alu dan sarung, tiga orang pemain harus berjalan dengan posisi duduk dengan kedua tangan sebagai tumpuan menuju titik tengah arena permainan.

Setelah berhasil mendapatkan alu dan sarung, tiga orang pemain tersebut harus mengenakan sarung dan kemudian diserahkan kepada satu pemain lainnya yang berada di sisi lain arena. Pemain di sisi lain arena kemudian akan berjalan zig-zag mengenakan sarung dengan posisi membungkuk untuk bergabung dengan ketiga pemain lainnya.

Setelah itu, pemain yang bergabung terakhir akan digotong menggunakan sarung dan alu yang telah dibuat sedemikian rupa hingga membentuk drakbar untuk menuju ke tengah arena memperebutkan untaian padi dengan tim lawan. Pemenang ditentukan dari siapa yang berhasil memperoleh untaian padi.

"Apabila hasilnya seri, maka wasit akan menentukan pemenang dengan babak tambahan. Babak tambahan ini dimainkan oleh tiga orang pemain yang berada dalam satu sarung membawa tenggok. Mereka akan memperebutkan bola jerami yang dilemparkan oleh wasit. Siapa yang terbanyak mendapat bola jerami, tim itu yang menang," terang Joko.

Nantinya Kulon Progo bakal mengirimkan 15 orang untuk mempresentasikan permainan Obah Owah. Selain delapan orang pemain, ada pula satu orang wasit dan dua orang asisten wasit. Untuk memeriahkan suasana, dalam kontingen juga akan diperkuat dengan tiga orang pemusik.

"Kami telah mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Yang jelas kita akan menampilkan permainan ini semaksimal mungkin. Kami optimis bisa meraih prestasi kembali," sambung Joko.

Salah satu pemain Obah Owah, Rumekar Ageng Pembayun mengaku cukup senang bisa menjadi salah satu bagian dari Kontingen Kulon Progo dalam ajang kali ini. Menurutnya, permainan ini membutuhkan kelincahan dan kemampuan menjaga keseimbangan.

"Apalagi saat berjalan zig-zag berseluncur dengan kaki memakai sarung itu agak sulit menjaga kesimbangannya. Tapi senang sekali, semoga bisa menang dan mampu berprestasi,” jelas gadis berusia 20 tahun tersebut.