Tak Kunjung Usai, Transportasi Online dan Pangkalan Terus Bersitegang
Peristiwa

Tak Kunjung Usai, Transportasi Online dan Pangkalan Terus Bersitegang

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Permasalahan antara penyedia jasa transportasi dalam jaringan (daring) atau online dan jasa transportasi konvensional atau pangkalan nampaknya tak kunjung usai. Pun begitu dengan yang terjadi di Kulon Progo.

Penetapan zona hijau dan zona merah, titik penjemputan yang tak sesuai hingga pembajakan penumpang menjadi permasalahan yang tak berkesudahan. Hingga akhirnya, kedua belah pihak bertemu dan bermediasi di sisi luar Stasiun Wates, Selasa (11/09/2018) petang.

Ketika sorot.co berada di lokasi, mediasi sempat berlangsung alot. Kedua belah pihak menyampaikan statement yang menjadi kendala mereka masing-masing. Terutama dalam mencari penumpang di sekitaran Stasiun Wates.

"Ini kami bermediasi agar semuanya jelas. Mulai dari titik penjemputan hingga sejauh mana zona merah bagi transportasi online," ungkap Anwar Kurnianto, Sekretaris Transportasi Online Kulon Progo (TOKP), Selasa petang.

Ia menyebut, selama ini sejumlah oknum yang ia duga sebagai penyedia jasa transportasi konvensional memberlakukan peraturan yang dianggap tak manusiawi bagi calon penumpang. Calon penumpang yang telah mengorder transportasi online harus berjalan kaki sejauh sekitar satu kilometer dari titik penjemputan di simpang empat Pasar Wates dengan jalan memutar. Padahal, ada jalan yang lebih singkat yang bisa ditempuh oleh para calon penumpang. 

"Banyak penumpang kami yang bercerita seperti itu. Tak sedikit pula yang kemudian membatalkan orderan karena ada sebagian oknum yang menawarkan ojek atau transportasi offline dengan tarif online," sambung dia.

Ia berharap, melalui keputusan yang dihasilkan mediasi tersebut, bisa memberikan efek positif bagi kedua belah pihak. Pasalnya, tak dipungkiri olehnya bahwa transportasi online di Kulon Progo semakin berkembang dan terus bertambah.

Sementara itu, perwakilan penyedia jasa transportasi konvensional, Candra mengungkapkan bahwa selama ini, sejumlah penyedia jasa transportasi online kerap melanggar titik penjemputan yang telah ditentukan. Sejumlah titik yang biasanya digunakan untuk menunggu orderan atau ngetem oleh penyedia jasa transportasi online dituding juga melanggar kesepakatan sebelumnya.

"Sebenarnya sudah ada kesepakatan sebelum lebaran kemarin. Untuk titik penjemputan dan ngetem di simpang empat Pasar Wates. Tapi ada yang ngetem di lokasi yang lebih dekat," katanya.

Ditanya soal tudingan penyedia jasa transportasi online terhadap pihaknya, Candra menyebut hal tersebut hanya kesalahpahaman saja. Menurutnya, sejumlah penumpang yang membatalkan orderan merupakan kemauan dari penumpang itu sendiri.

"Yang jelas mediasi sudah clear. Nanti perkembangannya seperti apa kita lihat," pungkas dia.