Puluhan Alat Sedot Pasir Ilegal Diangkut Polisi
Peristiwa

Puluhan Alat Sedot Pasir Ilegal Diangkut Polisi

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Sebanyak 32 unit alat sedot pasir ilegal dan satu unit truk yang dioperasikan di sejumlah tempat penambangan pasir milik warga di bantaran Sungai Progo diangkut oleh personil Polres Kulon Progo.

Penyitaan dilakukan di wilayah Pedukuhan Bleberan, Sawahan dan Banaran di Desa Banaran, Kecamatan Galur serta Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah.

Kapolres Kulon Progo, AKBP Anggara Nasution mengungkapkan bahwa penyitaan dilakukan pada 15 Agustus 2018 lalu. Ketika itu, tak ada warga yang melakukan perlawanan ataupun penolakan.

"Ketika kami melakikan penyitaan, tidak ada orang di sekitar tempat penambangan. Jadi semua mesin sedot pasir ini kita belum tahu pemiliknya," ungkap Anggara, Rabu (12/09/2018).

Anggara menyebut, sebelum pihaknya melakukan penyitaan, sejumlah sosialisasi hingga pemasangan spanduk terkait larangan penambangan pasir secara ilegal telah dilakukan sejak awal Agustus lalu. Meski begitu, masih ada saja oknum yang tak mengindahkan imbauan tersebut. 

Penyitaan 32 unit alat sedot pasir, kata Anggara, lantaran kesemua alat tersebut tak sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Alam (ESDM). Kesemua mesin sedot tersebut berkekuatan 30 PK (horse power/HP atau daya kuda). Setiap satu unit mesin diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 60 juta untuk biaya perakitan hingga bisa dioperasikan.

"Dengan daya sedot tersebut, mesin sedot pasir yang kami sita memiliki daya degradasi yang tinggi karena tidak bisa diatur seberapa dalam menyedot pasir. Bisa merusak saya tahan dan morfologi sungai," sambung Anggara.

Setelah penyitaan, pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan pihak Kementerian ESDM terkait langkah lanjutan. Termasuk akankah dilakukan pemusnahan terhadap barang bukti yang telah disita.

"Kami masih jalin komunikasi juga dengan pemerintah terkait barang bukti, saksi, pemilik tambang, maupun masalah dampak sosial akibat penutupan ini," pungkas Anggara.