Tersebar di 22 Desa, Wilayah Selatan Kulon Progo Rawan Banjir
Peristiwa

Tersebar di 22 Desa, Wilayah Selatan Kulon Progo Rawan Banjir

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Memasuki musim penghujan pada akhir tahun 2018, sejumlah desa di sisi selatan Kulon Progo mulai didata oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo. Pendataan ini dilakukan untuk mengetahui wilayah mana saja yang menjadi wilayah rawan banjir.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulon Progo, Heppy Eko Nugroho mengatakan, berdasarkan pendataan yang dilakukan terdapat sebanyak 22 desa di wilayah selatan wilayah rawan banjir. Seluruh desa tersebut tersebar di 5 kecamatan.

"Sebanyak 22 desa itu tersebar di Kecamatan Wates, Kecamatan Galur, Kecamatan Panjatan, Kecamatan Lendah dan Kecamatan Temon," ungkap Heppy, Kamis (08/11/2018).

Adapun 22 desa tersebut yakni Desa Plumbon, Kalidengen, Paliyan, Kaligintung, Temon Wetan dan Temon Kulon di Kecamatan Temon. Kemudian untuk Kecamatan Wates meliputi Desa Karangwuni, Sogan, Kulwaru, Ngestiharjo dan Triharjo.  

Sementara untuk Kecamatan Panjatan yakni Desa Gotakan, Panjatan, Cerme, Kanoman, Krembangan dan Tayuban. Adapun di Kecamatan Galur meliputi Desa Brosot, Tirtorahayu, Kranggan dan Pandowan. Sedangkan di Kecamatan Lendah yaitu Desa Wahyuharjo.

"Tapi itu belum termasuk wilayah terdampak banjir rob air selatan," sambung dia.

Pihaknya telah melakukan sejumlah upaya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. Termasuk diantaranya dengan pembentukan desa tangguh bencana di desa-desa rawan banjir, pengoptimalan koordinasi dengan para relawan serta mengandalkan efek dari proyek normalisasi Sungai Heizero dan Sungai Sen yang dilakukan dari Simpang Empat Nagung, Kecamata Wates hingga Jembatan Ngremang, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan. 

Namun, proyek normalisasi sungai tersebut kini baru difokuskan untuk memperlancar arus air sungai dari Desa Giripeni, Sanggrahan dan Desa Bendungan. Sedangkan hulu sungai semisal di Desa Bugel dan sekitarnya belum dikerjakan. Buntutnya, wilayah lain tetap memiliki potensi terkena banjir.

"Semoga dengan upaya normalisasi sungai ini bisa mengurangi risiko banjir pada tahun 2018," pungkas dia.