Kisah Mbah Mangun, Hidup di Dalam Pondok Kecil Bersanding Peti Mati
Sosial

Kisah Mbah Mangun, Hidup di Dalam Pondok Kecil Bersanding Peti Mati

Lendah,(kulonprogo.sorot.co)--Hidup sendirian telah dirasakan Mbah Mangun, seorang kakek berusia 87 tahun asal Pedukuhan Mendiro, Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah sejak belasan tahun terakhir. Tubuhnya yang tak lagi tegak kini hanya bisa mendukung aktivitasnya di gubuk kecil berukuran 3 x 3 meter.

Pondok itu berada di kebun belakang, antara rumah batu dan kandang sapi. Kawasan tempat tinggalnya merupakan pekarangan milik Waryadi (65), adik dari ayah yang sama. Pondok membelakangi jalan kampung dari semen dan bagian mukanya menghadap sumur dan kamar mandi.

Saya tinggal di sini sudah berapa tahun ya? Saya tidak punya rumah. Soalnya dulu mblayang-mblayang wae (Jawa: jalan-jalan ke mana-mana),” kata Mbah Mangun, Senin (23/03/2020).

Pondok mungil itu sejatinya kokoh meski dindingnya hanyalah terpal yang sebentar lagi bolong. Terpal terpaku pada tiang pondok dari beton. Atap pondok genting tanah liat, lantainya masih tanah. Tak ada pintu, hanya anyaman bambu dan tumpukan kayu bakar sebagai penghalang bagian muka pondok mungilnya yang menghadap sumur. 

Mangun hidup tanpa punya apa-apa dalam pondok ini. Tanpa barang apalagi harta. Hanya terlihat radio usang di sudut ruang pondok, piring bekas pakai yang belum dicuci, ember lusuh tempat ayam mengerami telur, tumpukan beras dalam karung serta sembako yang masih dalam plastik.

Sebagian besar ruangan pondok untuk dipan dengan kasur tipis yang kapuknya sudah mulai terburai. Namun di samping kasur tempat Mangun mengistirahatkan tubuh, sebuah peti mati diletakkan di sampingnya.

Peti mati tersebut memang sengaja disiapkan oleh Mangun sesuai dengan tinggi tubuhnya. Tiga lembar kain mori yang dilipat terlihat lembab tergeletak di dalam peti mati tersebut.

Mangun menuturkan bila semua disiapkan untuk kematiannya kelak. Tak hanya peti mati, Mbah Mangun mengaku sudah membeli liang lahat dan batu nisan atau kijing yang semuanya disiapkan untuknya nanti kalau mati.

Yen wis dipundhut, gari nguncalke. Kulo wis siap-siap jogangan (kalau sudah dipanggil Tuhan, tinggal masukkan saja. Saya sudah menyiapkan liangnya juga). Itu lho ruangan untuk ngubur,” kata Mbah Mangun.

Walau memiliki keluarga, Mangun mengaku ingin menjalani sisa hidupnya tetap seperti ini. Ia mengaku tidak ingin membuat repot dan susah keluarganya yakni dua anak, tiga cucu dan lima cicit.

Mangun suka berkisah bagaimana cucunya meminta ikut dirinya. Ia bergeming. Tidak hanya cucunya. Tak sedikit warga sekitar menawarkan tempat tinggal.

Namun lagi-lagi Mangun memilih bergeming. Ia mengaku sudah terbiasa dengan cuaca maupun suara di sekitar kawasan ini. Juga keramahan warga. Ia terbiasa dengan kondisi seperti ini yang telah ia lakoni selama belasan tahun.