Paham Radikalisme Muncul di Tengah Kebijakan Peniadaan Ibadah Salat Berjamaah
Sosial

Paham Radikalisme Muncul di Tengah Kebijakan Peniadaan Ibadah Salat Berjamaah

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Keputusan pemerintah untuk meniadakan salat tarawih berjamaah demi memutus penyebaran Corona Virus Desease (COVID-19) memicu munculnya paham radikalisme. Mengusung isu pembatasan umat untuk beribadah, jaringan terorisme bergerak di masyarakat.

Dalam kondisi COVID-19, jaringan terorisme dan radikalisme itu, tetap bergerak menebar paham radikal di tengah masyarakat,” tutur Kanit III Satintelkam Polres Kulon Progo, Ipda Imron Rosidi dalam Sosialisasi Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Kontra radikalisme di Kalurahan Wates, Kulon Progo (02/05/2020).

Sosialisasi ini dilaksanakan oleh Polres Kulon Progo bekerjasama dengan Kodim 0731/Kulon Progo dan Pemkab Kulon Progo. 

Jaringan terorisme, kata Imron, saat ini memanfaatkan isu pembatasan kegiatan umat beragama. Mulai dari larangan salat tarawih berjamaah di masjid, menghilangkan kultum, hingga pengajian dan kegiatan yang selama ini identik dengan bulan Ramadan.

"Mereka menjadikan hal itu sebagai pintu masuk untuk menebar ajaran radikalisme di masyarakat," imbuh Imron.

Meski begitu, polisi dan petugas keamanan juga tidak kalah sigap. Keberadaan jaringan terorisme justru berhasil diungkap. Terakhir jaringan di Sidoarjo, Jawa Timur dibongkar dan beberapa orang diamankan.

Atas kondisi inilah, polisi mengajak adanya peran aktif dari masyarakat untuk melakukan pencegahan. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus bisa ikut memerangi paham radikalisme dan memiliki kesadaran untuk ikut berperan aktif.

Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Kesatuan Berbangsa dan Politik (kesbangpol) Kulon Progo, Budi Hartono mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan. Kehadiran bandara menjadikan Kulon Progo semakin maju, namun bakal membawa banyak orang asing masuk.

Masyarakat harus ikut mengawasi. Kalau ada yang mau kost tidak salah bila menanyakan KTP atau keterangan lain,” terangnya.

Tokoh agama juga diminta untuk memberikan paham agama yang benar. Jika ada jamaah yang ajarannya menyimpang, tokoh agama memiliki kewajiban untuk memberikan pemahaman yang benar.

"Biasanya mereka melakukan kegiatan agama secara ekslusif, hanya golongan tertentu saja," terang Budi.

Lurah Wates, Bambang Sunartito mengatakan kesadaran warga Wates untuk mengantisipasi paham-paham radikalisme tergolong tinggi. Budaya gotong royong masih berjalan baik di masyarakat, sehingga ketika ada sesuatu yang janggal akan mudah terdeteksi.