Dampak Pandemi, Permintaan Kopi Suroloyo Menurun Drastis
Ekonomi

Dampak Pandemi, Permintaan Kopi Suroloyo Menurun Drastis

Samigaluh,(kulonprogo.sorot.co)--Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membuat para petani kopi di Pedukuhan Keceme, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh gigit jari. Pasalnya selama pandemi, permintaan kopi Suroloyo menurun hampir mencapai 80 persen.

Salah seorang petani kopi Suroloyo, Windarno mengatakan bila sejak pemerintah mengumumkan masa pandemi, pendapatan dari penjualan kopi ke luar Kulon Progo menurun. Biasanya, setiap bulan ia bisa mengirim sekitar 50 kilogram kopi Suroloyo baik arabika maupun robusta ke luar Kulon Progo.

"Tapi sejak pandemi, sebulan paling banyak cuma 10 kilogram," ungkap Windarno, Kamis (18/06/2020).

Windarno menjual kopi biji ke luar area Kulon Progo dengan harga Rp 150 ribu untuk satu kilogram robusta dan Rp 260 ribu untuk satu kilogram arabika. Sebelum pandemi, ia bisa mengantongi uang sekitar Rp 10 juta dari mengirim kopi untuk kebutuhan kedai-kedai di luar Kulon Progo. 

Penurunan pendapatan ini juga dirasakan dari kedai kopi milik Windarno di area parkir obyek wisata Suroloyo. Sejak awal pandemi, kedai kopi miliknya menjadi sepi.

"Kita memang awal itu diminta tutup. Meskipun bika tapi pengunjungnya sepi," imbuh Windarno.

Namun semenjak rencana penerapan tatanan hidup baru atau new normal, kunjungan di kedai kopi milik Windarno mulai didatangi pelanggan. Setidaknya, dalam sehari ia bisa menjual sekitar 50 cangkir kopi.

"Memang belum seramai sebelum pandemi. Tapi alhamdulillah sudah ada yang datang untuk sekedar menikmati kopi," katanya.

Namun Windarno tak luput memperhatikan protokol kesehatan ketika memutuskan untuk membuka kembali kedainya. Para pengunjung diminta untuk memakai masker dan mencuci tangan sebelum ataupun sesudah masuk kedainya.

"Protokol kesehatan tetap kita perhatikan. Kalau tidak buka juga sudah banyak pelanggan yang tanya," katanya.