Warga Sambat Pembayaran Ganti Rugi Pembangunan Rel Kereta Bandara Macet
Pemerintahan

Warga Sambat Pembayaran Ganti Rugi Pembangunan Rel Kereta Bandara Macet

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Warga Kalurahan Kaligintung, Kapanewon Temon yang lahannya terkena dampak pembangunan rel kereta api penunjang akses menuju Yogyakarta International Airport (YIA) kini resah. Pasalnya, pembayaran uang ganti rugi atas tanah mereka kini macet.

Salah satunya seperti yang dirasakan warga di Pedukuhan Siwates. Dari total 177 bidang tanah terdampak, baru 57 bidang yang dibayarkan ganti ruginya kepada pemilik lahan. Proses pembayaran ini berlangsung pada Mei 2020 lalu.

Dukuh Siwates, Ribut Yuwono menuturkan bila pihaknya sendiri belum mengetahui kapan pelunasan ganti rugi tersebut dilaksanakan. Padahal kata Ribut tim pengadaan lahan menjanjikan ganti rugi cair pada Desember 2019.

"Ini membuat warga kami resah, masa sampai hari ini belum ada kejelasan kapan akan dibayarkan, padahal kemarin janjinya Desember 2019 sudah cair," ujar Ribut, Rabu (24/06/2020).

Disebut oleh Ribut, nomonal ganti rugi telah disepakati pada Oktobwe 2019 lalu. Per meter lahan terdampak dihargai Rp 1,3 juta hingga Rp 2 juta. Warga pun telah menyetujui harga untuk ganti rugi lahan mereka yang terdampak pembangunan ini. 

Warga juga telah mengirimkan berkas persyaratan ganti rugi kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah DIY selaku bagian dari tim pengadaan lahan. Dengan harapan, proses bisa berlangsung lancar dan uang ganti rugi segera cair.

"Dan sampai hari ini berkas itu gak pernah kembali, tentunya kami mengira sudah komplit dong tinggal menunggu pembayaran, tapi kenapa kok malah tidak ada kejelasan, padahal warga sudah pada nanyain," ucap Ribut.

Pejabat Sementara (Pjs) Lurah Kaligintung, Prayogo mengatakan warga Kaligintung sebenarnya sangat mendukung rencana pembangunan jalur kereta bandara. Hal ini dibuktikan dengan kerelaan warga menyerahkan tanahnya untuk pembangunan tersebut.

Hanya saja dalam kasus ini warga ingin ada kepastian pembayaran gantu rugi. Jika terus mundur warga bakal merugi. Terutama warga yang lahan permukiman terdampak.

"Otomatis mereka kan harus hengkang dan mencari relokasi baru. Padahal uang yang mereka terima itu mepet karena pasti terus digunakan," ujarnya.