Kerap Disebut Tak Waras, Wanita Ini Tetap Sapu Jalan Meski Tak Ada Imbalan
Sosial

Kerap Disebut Tak Waras, Wanita Ini Tetap Sapu Jalan Meski Tak Ada Imbalan

Sentolo,(kulonprogo.sorot.co)--Bagi pengguna jalan yang kerap melintas di jalan layang atau fly over di Kalurahan Sentolo, Kapanewon Sentolo mungkin kerap menjumpai sosok wanita tua yang menyapu jalan pada siang hari. Sosok itu ialah Partiyem, seorang nenek tujuh cucu berusia 57 tahun.

Terik matahari yang berada di atas kepala sudah menjadi keseharian Partiyem. Berbekal sebuah caping usang sebagai penutup kepala, Partiyem selalu mengayunkan sapunya di sepanjang fly over yang kerap disebut warga sebagai fly over Ngelo setiap hari tanpa banyak bicara.

Fokusnya ialah mengumpulkan sedikit demi sedikit daun yang berguguran dengan sapunya. Setelah terkumpul, sampah yang bertebaran di jalan layang kemudian dimasukkan ke dalam keranjang bambu anyaman.

Tak hanya daun kering yang berguguran lantaran di kiri kanan ruas jalan ditumbuhi pohon besar, lidi sapu milik Partiyem kerap kali menyapu sampah bungkus makanan hingga puntung rokok. Sampah di jalan ini memang terbilang banyak sejak jalur ini menjadi pilihan pengguna jalan sejak tahun 2016 lalu.

Jalan ini sendiri merupakan penghubung beberapa wilayah, diantaranya Kalibawang, Nanggulan bahkan hingga alternatif menuju wilayah Magelang. Memang jalur yang dibangun Pemkab Kulon Progo dengan dana Rp 16 miliar ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di dekat Pasar Sentolo lama.

Namun keseharian Partiyem yang menyapu jalan sepanjang 120 meter dengan lebar tujuh meter itu justru kerap dianggap oleh sebagian besar warga sebagai kegiatan tak waras. Bagaimana tidak, Partiyem yang nenyapu jalan sejak 2017 silam itu sama sekali tak menerima bayaran.

Sebenarnya Partiyem yang hidup bersama sang suami, Mugiyono (65) melanjutkan hari tua tanpa kekurangan di sebuah rumah di Pedukuhan Gunung Rawas, Kalurahan Sentolo, Kapanewon Sentolo. Empat anaknya telah hidup mandiri di sejumlah wilayah.

Setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, Partiyem tak absen menyapu jalan. Ia berjalan kaki dari rumahnya menuju fly over yang berjarak satu kilometer. Biasanya, ia hanya membawa bekal berupa satu botol air putih, sebuah caping dan sapu lidi bergagang. Ia berangkat pukul 12.00 dan pulang setelah azan Maghrib berkumandang.

"Sampun telas sedasa (sepuluh) sapu. Kula nyapu ten riki sampun kawit tahun 2017. Kula pados rezeki sing halal. (Sudah habis sepuluh sapu. Saya nyapu di sini sudah sejak tahun 2017. Saya cari rezeki yang halal)," tutur Partiyem, Senin (29/06/2020).

Bekerja menyapu jalan raya yang padat kendaraan sama saja bertaruh nyawa bila tak hati-hati. Ia lebih memilih minggir bila menurutnya arus kendaraan sedang ramai. 

"Yen rame kula milih minggir. Kantenan wonten riki sing liwat banter-banter. (Kalau ramai kendaraan saya milih minggir. Karena di sini yang melintas kencang-kencang)," katanya, Senin (29/06/2020).

Meski melakukan pekerjaan yang terbilang berat, sebenarnya Partiyem dan suaminya telah memiliki penghasilan. Di antaranya dari rumah pembuatan batu bata seluas 6x12 meter dengan hasil tak seberapa. Sang suami, Mugiyono juga mencari rumput saban hari untuk memberi makan seekor sapi.

Sapi dibesarkan dan diperanakkan untuk kemudian dijual olehnya. Mugiyono selalu mensyukuri pendapatan dari menjual sapi. Menjelang Iduladha, ia berharap harga sapi bisa lebih baik untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.

Sehari bisa dua kali cari rumput. Dari sapi bisa dapat Rp 5 juta kalau dijual,” kata Mugiyono.

Awal mula keseharian Partiyem sebagai penyapu jalanan ini berangkat dari keenggannya berdiam diri di rumah pada usia tua.

Partiyem berniat ingin terus bekerja semasa merasa masih kuat dan sehat. Ia pun memanfaatkan waktu luang dengan bekerja, yakni menyapu jalan raya. Awalnya, ia minta izin warga yang bermukim di sekitar jalan layang untuk menyapu jalan.

Ketika itu, jalanan tersebut sebenarnya memang perlu dibersihkan. Gugur daun dari pohon-pohon besar di kanan kiri jembatan sering mengotori jalanan. Di situ, ada pohon trembesi yang daunnya cukup banyak terserak di jalanan.

Saya kumpulkan ke dekat keramatan (kuburan). Setelah kering saya bakar. Sakniki wite pun ditebang, tapi kula tetep nyapu. (Sekarang pohonnya sudah ditebang. Tapi saya tetap nyapu),” katanya.

Apa yang dilakukan Partiyem sebenarnya ia laksanakan tanpa mengharap imbalan. Kendati begitu, ada saja orang berbaik hati yang tersentuh atas aksi ini dan memberi uang, termasuk camilan dan bahan makanan.

Partiyem menyebut bila pengendara mobil acap kali menepikan kendaraannya untuk memberikan uang ala kadarnya kepada Partiyem. Uang yang didapat Partiyem dari para pengguna jalan yang berbaik hati ini beragam, mulai dari Rp 10 ribu, Rp 20 ribu. Bahkan sesekali ada yang memberi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Kagem nyukupi saben dinten. (Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari),” kata Partiyem.

Terpisah, Dukuh Gunung Rawas, Sukarni menceritakan, kebiasaan menyapu sudah ditunjukkan Partiyem sebelum jalan layang itu ada. Ia sering ditemui menyapu jalanan kampung pedukuhan sekitar rumahnya tanpa ada yang meminta. Lama-lama, Partiyem juga menyapu di jalanan dekat makam yang berada di samping jembatan. Setelah jalan itu jadi, ia menyapu di sana.

Tidak hanya itu, dia selalu mematikan dan menghidupkan lampu untuk jalanan kampung ini,” kata Sukarni.

Begitulah sosok Partiyem dikenal tetangganya. Nenek empat anak dengan tujuh orang cucu ini memiliki semangat kerja yang tak pernah pupus. Di tengah padatnya arus kendaraan di fly over itu, Partiyem mengaku ingin terus bekerja tanpa mengharap imbalan.

Yang ia harap kepada sang pemilik hidup ialah untuk terus diberi kesehatan dan diberi umur panjang. Ia justru menyebut bila bekerja merupakan kebahagiaan hidupnya, meski ia mengaku kerap merasakan pusing lantaran terpapar terik.