Miris ! Bocah Down Syndrome Dianiaya Orangtua Kandung, Kerap Tidur di Kandang Kambing
Hukum & Kriminal

Miris ! Bocah Down Syndrome Dianiaya Orangtua Kandung, Kerap Tidur di Kandang Kambing

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Orangtua semestinya menjadi sosok yang menjadi pelindung bagi buah hatinya. Namun hal itu tak dilakukan oleh pasangan suami istri, HB (42) dan FH (37), warga Klotakan, Kranggan, Kapanewon Galur. Orangtua ini tega menganiaya dan menelantarkan anak kandungnya sendiri, G, yang mengalami gangguan mental sejak lahir.

HB dan FH bahkan tega membiarkan anak yang saat ini baru berusia 10 tahun ini tidur di dalam kandang kambing, diikat, lalu dipukul menggunakan pelepah daun kelapa atau bongkot dalam bahasa Jawa. Akibat perbuatannya, kedua orangtua ini harus berurusan dengan polisi.

Balada penderitaan G dimulai ketika ia menginjak usia sembilan tahun. G yang sejak kecil diurus oleh neneknya di Magelang, Jawa Tengah ini kemudian diasuh oleh kedua orang tua kandungnya. Namun bukannya mendapatkan kasih sayang, G kecil justru harus menderita.

"Ini sangat memprihatinkan. Orangtua yang seharusnya melindungi, menjaga dan merawat, justru menelantarkan dan menganiaya buah hatinya sendiri. Sangat tidak manusiawi," ungkap Kasat Reskrim Polres Kulon Progo, AKP Munarso ketika melakukan gelar perkara di Mapolres Kulon Progo, Rabu (19/08/2020).

Selama tinggal bersama orangtuanya, G kerap berada di kandang kambing. Tubuh kecilnya terikat di tiang kandang. Akibatnya, tubuh G penuh luka koreng, gatal-gatal karena terkena kotoran kambing. Tidak hanya siang, G juga berulang kali dibiarkan tidur kedinginan di kandang pada malam hari. 

Bocah itu pun terpaksa tidur dan makan di kandang yang sama sekali tak higienis. Ia juga sering ditinggal seharian, saat orangtuanya pergi bekerja sebagai buruh serabutan.

Dari keterangan polisi, G merupakan putra sulung dari HB dan FH. Selain G, mereka juga memiliki anak lain, namun kondisinya normal. Hanya G lah yang terlahir berbeda. orangtua juga tidak menyekolahkan G ke Sekolah Luar Biasa (SLB) karena menganggap bocah itu belum siap.

"Karena menderita gangguan mental, G masih bertingkah seperti anak kecil meski usianya sudah 10 tahun. Kepada kami, para tersangka mengaku jengkel dengan kondisi anak itu," imbuh Munarso.

Jengkel terhadap tingkah laku G menjadi alasan orangtua untuk menyiksanya. Lantaran penganiayaan yang dilakukan terus menerus, tubuh G penuh luka. Bahkan luka lebam memenuhi wajah dan menutupi mata.

Beruntung G tak mengalami penderitaan dalam waktu yang lama. Akibat geram dengan perbuatan kedua pelaku, warga setempat kemudian melaporkan HB dan FH kepada polisi. Pasutri ini kemudian dicokok polisi pada 9 Juli lalu di rumahnya tanpa melakukan perlawanan.

"Saat para pelaku kami tangkap, G sudah beberapa minggu dirawat di RSUP Dr Sardjito dengan ditunggui simbahnya dari Magelang. Sekarang kondisinya sudah membaik," katanya.

Ketika dihadirkan di hadapan awak media, FH, sang ibu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia mengakui perbuatannya yang tega mengikat anaknya di kandang kambing dengan alasan agar G tidak pergi kemana-mana.

"Nggak setiap hari di situ (kandang kambing). Diikat supaya nggak pergi. Pernah sampai Pasar Kliwon hampir ketabrak mobil. Kadang dia juga ngerusak barang-barang, itu kan bukan rumah saya, tapi rumah mertua," kata FH.

Ditanya soal luka pada tubuh anaknya, sang ibu mengaku tidak tahu, dari mana sumber luka lebam tersebut. Meski demikian, keterangan ia tidak menjadi patokan polisi, karena bukti-bukti kuat dari masyarakat sudah dikantongi.

HB dan FH bakal dijerat Pasal 80 Ayat 2 juncto Pasal 80 Ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Keduanya terancam hukuman penjara paling lama lima tahun, ditambah sepertiga hukuman karena merupakan orangtua kandung dari korban.