Lakukan Inovasi, Dinas Klaim Petani Pesisir Sukses Tanam Bawang Merah
Ekonomi

Lakukan Inovasi, Dinas Klaim Petani Pesisir Sukses Tanam Bawang Merah

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulon Progo melakukan inovasi, dengan mendorong petani pesisir untuk menanam bawang merah. Bahkan DPP mengklaim bila petani pesisir sukses menanam bawang merah untuk kali pertamanya.

Kepala DPP Kulon Progo, Aris Nugraha mengatakan bila inovasi yang dilakukan pihaknya ini berangkat dari kesuksesan para petani bawang merah di Kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo. Mereka mampu meraup keuntungan sekitar Rp 40 juta detiap 1.000 m2 lahan tanam bawang merah.

"Kemudian dari pusat [Direktorat Jenderal Holtikultura Kementerian Pertanian RI] berupa benih bawang merah untuk lahan seluas 20 hektare," kata Aris, Sabtu (20/02/2021).

Setelah menerima bantuan, DPP kemudian memberikan motivasi kepada kelompok tani penggarap lahan pesisir di tiga wilayah. Yakni Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates serta Kalurahan Garongan dan Kalurahan Bugel di Kapanewon Panjatan. 

Disebut Aris, biasanya para petani penggarap lahan pesisir hanya menanam tiga jenis tanaman komoditi utama. Yakni cabai, melon, dan semanga. Setalah tiga jenis tanaman itu dipanen, lahan hanya dimanfaatkan untuk menanam sayur mayur dengan nilai ekonomis yang tidak seberapa.

"Maka dari itu kami mendorong para petani pesisir untuk menanam bawang merah, yang nilai ekonomisnya lebih tinggi," imbuh Aris.

Dengan sejumlah perlakuan khusus, lanjut Aris, para petani penggarap lahan pesisir ini disebut sukses menanam bawang merah. Bahkan, salah satu kelompok tani mampu memanen 24 ton bawang merah dari lahan tanam seluas satu hektare.

Bahkan, kata Aris, para petani penggarap lahan pesisir heran. Pasalnya, percobaan pertama menanam bawang merah mampu mendatangkan keuntungan yang lumayan. Terlebih bawang merah yang biasanya dibudidayakan di lahan dengan media tanam tanah berpasir, kini ditanam di lahan berpasir di wilayah pesisir.

"Perlakuannya untuk lahan pesisir memang sedikit berbeda. Yakni dengan mulsa plastik, penggunaan light trap tenaga surya untuk mengantisipasi datangnya hama," imbuh Aris.

Disebut Aris, perlakuan berbeda ini justru menekan ongkos pengeluaran para petani untuk membeli insectisida. Terlebih, lahan pesisir disebut mampu menyerap air lebih baik. Hanya saja, pupuk organik yang harus digunakan oleh para petani harus lebih banyak.

Ditanya soal kualitas, bawang merah hasil budidaya para petani penggarap lahan pesisir tak kalah dengan petani di Srikayangan, yang merupakan sentra budidaya bawang merah. Hanya saja memang ukurannya sedikit lebih kecil ketimbang bawang merah panenan petani Srikayangan, meskipun dengan varietas bawang merah yang sama.

"Untuk rasanya tetap pedas karena varietas yang digunakan sama, yakni bawang merah Tajuk. Tapi ukurannya memang sedikit lebih kecil karena ini penanaman pertama," kata Aris.

Bawang merah ini, nantinya akan dijadikan sebagai tanaman sela bagi petani penggarap lahan pesisir setelah menanam cabai, melon, maupun semangka. Di sisi lain, bawang merah juga bisa menjadi komoditi baru dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan tingkat ekonomi para petani pesisir.

"Bawang merah ini memiliki potensi yang sangat bagus kalau para petani pesisir bisa memanfaatkannya dengan baik. Saya yakin itu," imbuh Aris.

Terpisah, salah seorang petani penggarap lahan pesisir di Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, Purhadi (65) mengaku memiliki sedikit kendala ketika menanam bawang merah di lahan berpasir. Bibit bawang merah yang ia tanam tidak bisa tumbuh secara bersamaan, meskipun penanaman dikakukan bersamaan.

"Kemungkinan karena lahan pasir panas dan kegemburannya tidak bisa merata. Ada yang bagian atas panas dan gembur, tapi bagian bawah masih basah dan keras," katanya.

Selain itu, untuk bisa menanam bawang merah di lahan berpasir, para petani harus tahu betul bagaimana kondisi lahannya. Karena ada pula lahan pasir yang berminyak sehingga tidak bisa menyerap air dengan baik.

"Kalau pasirnya berminyak, air justru akan menggenang dan tidak meresap. Itu akan merusak tanaman," katanya.

Lantaran bawang merah pada sebagian petak lahan tanamnya tak tumbuh bersamaan, ia terpaksa hanya memanen bawang merahnya sebagian. Itu pun hasilnya juga tak begitu memuaskan, lantaran bawang merah yang ia panen hanya berukuran kecil.