Festival Kethoprak Kulon Progo dan Problem Pasca Pelaksanaan
Budaya

Festival Kethoprak Kulon Progo dan Problem Pasca Pelaksanaan

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo baru saja menggelar Festival Kethoprak Antar Kapanewon se-Kulon Progo 2022. Helatan itu dilaksanakan di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo (TBK) sejak Kamis (19/05) hingga Minggu (22/05) lalu.

Meski sukses melaksanakan helatan tahunan, festival itu justru meninggalkan problem yang menyangkut banyak pihak. Permasalahan ini bermuara pada dugaan pelanggaran penggunaan hak kekayaan intelektual yang dilakukan oleh salah satu kontingen dalam ajang itu.

Kontingen Kapanewon Panjatan disebut-sebut melakukan dugaan pelanggaran penggunaan kekayaan hak intelektual salah satu karya novel. Novel berjudul Tusuk Kondhe Nyi Demang karya Bayu Saptomo dengan nama pena Bey Saptomo menggunakan pengantar Bahasa Jawa itu diadaptasi menjadi naskah lakon kethoprak oleh Kontingen Kapanewon Panjatan dengan judul Sindik Nyi Demang.

Namun ketika pementasan, nama pena Bayu Saptomo sebagai penulis novel sekaligus pemilik hak kekayaan intelektual atas ide dan gagasan cerita yang diadaptasi menjadi naskah lakon kethoprak Kontingen Kapanewon Panjatan justru tak disebut. Penggunaan kata sindik dalam judul naskah adaptasi itu menurut Bayu juga kurang tepat menurut bausastra Jawa.

Hal itu membuat Bayu Saptomo geram hingga akhirnya memutuskan untuk mengunggah surat terbuka yang ditujukan untuk Bupati dan Wakil Bupati, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo yang merupakan penyelenggara festival.

Surat terbuka itu telah diunggah Bayu melalui akun sosial media Facebook pribadinya pada 3 Juni 2022 lalu. Dalam surat terbuka itu, Bayu turut melampirkan foto sampul novelnya serta beberapa data terkait novel itu. Novel itu dicetak pertama kali pada September 2021 lalu oleh penerbit Buana Grafika, Yogyakarta dengan seri International Standard Book Number (ISBN) 978-623-7358-73-2.

Pria asal Yogyakarta berusia 58 tahun itu mengatakan bila sebenarnya penulis naskah lakon kethoprak Kontingen Kapanewon Panjatan telah meminta izin kepadanya untuk mengadaptasi novel karyanya. Bayu merestui permintaan itu karena menurutnya regenerasi penulis naskah lakon kethoprak perlu dilakukan.

''Tapi saya juga bilang, jangan sampai nama saya sebagai pemilik hak kekayaan intelektual itu dihapuskan. Penulis naskahnya memahami itu sebenarnya,\

" kata Bayu ditemui sorot.co beberapa waktu lalu.

Namun pada kenyataannya, ketika Kontingen Kapanewon Panjatan melakukan pementasan, tak disebutkan dan dijelaskan bila naskah yang dimainkan merupakan karya adaptasi novel Bey Saptomo. Pementasan Kontingen Kapanewon Panjatan dilakukan pada Sabtu (21/05) malam sebagai penyaji terakhir untuk hari itu. 

''Itu yang membuat saya kecewa. Kok bisa hal seperti itu terjadi. Padahal kontingen-kontingen lainnya dengan jelas menyebutkan siapa penulis naskahnya. Semua dibacakan oleh pembawa acara,\

" kata Bayu.

Ia menilai peristiwa itu sebagai preseden buruk dalam dunia kesenian dan kreatif. Pasalnya, dalam dunia yang telah ia tekuni selama puluhan taun itu, etika menurutnya menjadi bagian penting yang mesti dijunjung tinggi.

Dalam surat terbuka itu pula, Bayu meminta agar oknum yang diduga olehnya menjadi penyebab penghapusan namanya meminta maaf secara lisan dan tertulis melalui media sosial dan media massa lokal dan nasional.

''Etika dalam kekaryaan itu penting, maka saya berharap dari kejadian ini ada hikmah yang bisa diambil. Saya juga berharap agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan,\

" imbuh Bayu.

Meski berupaya untuk mengedepankan penyelesaian secara kekeluargaan, namun Bayu tak menutup kemungkinan bila ia bakal menempuh jalur hukum. Ia memberi tenggat hingga akhir bulan Juni agar Kontingen Kapanewon Panjatan bisa menjalin komunikasi untuk penyelesaian masalah ini.

Sejatinya, imbuh Bayu, sejumlah perwakilan tim produksi Kapanewon Panjatan didampingi perwakilan Dewan Kebudayaan Kulon Progo telah menemui Bayu untuk mengklarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf. Namun menurut Bayu hal itu jauh dari kata cukup, pasalnya, orang yang diduga olehnya menjadi penggagas penghapusan namanya tak ikut bertemu dengan dirinya.

''Saya tetap menunggu orang itu datang meminta maaf dan melakukan permintaan yang saya tulis di surat terbuka,\

" kata Bayu.

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo sebagai pelaksana kegiatan ini juga dinilai kecolongan hingga terjadi peristiwa demikian. Menurut Bayu, semestinya panitia hingga dewan juri yang bertugas lebih teliti dan cermat terhadap suatu karya apabila menyangkut dengan hak kekayaan intelektual.

Hal lain yang membuat Bayu makin geram atas peristiwa ini adalah munculnya isu bila dirinya ingin mencari keuntungan. Ia dengan tegas menampik tudingan meminta royalti atas karyanya yang diadaptasi menjadi naskah lakon kethoprak.

''Saya sama sekali tidak menerima sepeser pun dari karya adaptasi itu. Saya juga tidak meminta untuk diberi royalti,\

" imbuh Bayu.

Dikonfirmasi secara terpisah, Koordinator Kebudayaan Kapanewon Panjatan, Elizabeth Wuri Lestari mengatakan bila sebenarnya ia tak begitu mengetahui proses kreatif dan produksi Kontingen Kapanewon Panjatan. Pasalnya, ia hanya bertugas untuk menyampaikan informasi terkait pelaksanaan festival itu.

''Saya tidak begitu mengikuti proses kreatifnya. Karena memang ada beberapa kegiatan lain yang juga harus saya handle,\

" kata Wuri via sambungan telepon.

Terkait surat terbuka yang dibuat oleh Bayu Saptomo, Wuri mengaku bila pihaknya akan segera menyelesaikan permasalahan itu. Ia tak menampik adanya kemungkinan kesalahan teknis dalam penyajian Kontingen Kapanewon Panjatan hingga menimbulkan miskomunikasi ataupun misinformasi.

''Kemungkinan ada misinformasi. Saya sendiri kalau ada kesalahan juga memohon maaf,\

" imbuh Wuri.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo, Niken Probo Laras ketika dikonfirmasi oleh sorot.co tak memberikan tanggapannya. Ia sempat berujar akan memberikan keterangan usai dirinya mengikuti rapat, namun ningga berita ini dilansir, Niken belum memberikan tanggapannya.

''Nanti njih, masih mimpin rapat,\

" kata Niken dalam pesan terakhir yang diterima sorot.co.

Sebagai informasi, dalam ajang itu, Kontingen Kapanewon Panjatan keluar sebagai juara 1 dan menyabet sejumlah penghargaan perseorangan. Kapanewon Girimulyo menduduki peringkat kedua, disusul Kapanewon Samigaluh sebagai peringkat ketiga, Kapanewon Galur sebagai juara harapan satu, dan Kapanewon Nanggulan sebagai juara harapan dua.