Peletakan Batu Pertama, Masjid Al Hidayah di Lahan Relokasi Segera Dipindah
Pemerintahan

Peletakan Batu Pertama, Masjid Al Hidayah di Lahan Relokasi Segera Dipindah

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo dan juru bicara Proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) dari PT Angkasa Pura I, Kolonel Pnb Agus Pandu Purnama melakukan peletakan batu pertama pembangunan pengganti Masjid Al Hidayah di lahan relokasi Desa Palihan, Kecamatan Temon, Minggu (26/08/2018) sore. Seperti diketahui, Masjid Al Hidayah lama yang terletak di Pedukuhan Kragon II, Palihan, Kecamatan Temon masuk dalam Izin Penetapan Lokasi (IPL) NYIA.

Masjid yang dulu dibangun di atas tanah wakaf seluas sekitar 292 meter persegi tersebut kini bakal dipindah di tanah lahan relokasi Desa Palihan. Adapun luasan tanah pengganti yakni 788, 2 meter persegi.

"Tanah yang saat ini lebih luas. Jadi apabila warga setempat ingin bergotong royong mengembangkan bangunan masjid kelak, sangat dimungkinkan," ungkap Pandu yang juga menjadi General Manager Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Minggu (26/08/2018).

Pandu mengungkapkan bahwa pembangunan pengganti masjid tersebut ditargetkan bakal selesai dalam waktu dua bulan. Meski begitu, ia berharap pembangunan bisa dilakukan lebih cepat lantaran keberadaan masjid baru sudah sangat dibutuhkan oleh warga yang kini tinggal di lahan relokasi Palihan. 

"Dana yang digunakan untuk pembangunan fisik pengganti masjid bersumber dari appraisal sekitar Rp 500 juta. Untuk fasilitas lain seperti sound system, karpet, pagar dan lainnya nanti akan ditanggung oleh program CSR dari Angkasa Pura dan warga," sambung Pandu.

Dilanjutkan dia, selain pengganti masjid Al Hidayah, pihaknya juga bakal membangun satu masjid dan satu mushola di Desa Glagah terdampak pembangunan NYIA. Namun, pembangunan pengganti masjid Al Hidayah didahulukan karena pertimbangan warga di lahan relokasi Palihan yang membutuhkan masjid.

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pembangunan pengganti masjid diharapkan bisa sesuai dengan target. Ia menekankan bahwa pelaksanaan pembangunan akan disesuaikan dengan penurunan sejumlah material di masjid lama.

"Jadi masjid lama tidak robohkan begitu saja. Akan diambil material yang masih bisa digunakan seperti kayu, genting dan lainnya. Kami berharap proses penurunan material ini bisa disesuaikan dengan proses pembangunan masjid baru agar tidak terlalu lama," kata dia.

Ditanya soal keberadaan warga penolak yang masih memanfaatkan masjid lama sebagai tempat basis penolakan pembangunan NYIA, Hasto menyebut bahwa prinsip penurunan material di masjid lama bukan untuk mengusik atau mengganggu warga. Ia berharap tak ada gejolak dalam proses tersebut kelak.

"Saat ini tinggal ada sekitar 8 KK yang masih datang ke masjid lama. Tapi tidak menetap atau tinggal di dalamnya. Kalau warga di sana masih mau memanfaatkan masjid tersebut ya kami tidak melarang. Mau mendirikan tenda di lokasi baru juga tidak kami larang," pungkas dia.