Petambak Dibatasi Pembelian Solar Bersubsidi
Ekonomi

Petambak Dibatasi Pembelian Solar Bersubsidi

Temon,(kulonprogo.sorot.co)--Para petambak udang anggota Paguyuban Gali Tanjang (Glagah, Palihan, Sindutan dan Jangkaran) di Kecamatan Temon mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar bersubsidi. Solar digunakan para petambak ini untuk menggerakkan mesin kincir tambak.

Salah seorang petambak anggota Paguyuban Gali Tanjang, Bayu Putro (31) mengaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan solar bersubsidi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kecamatan Temon. Padahal setiap hari para petambak ini membutuhkan solar dengan jumlah yang banyak.

"Setiap harinya kalau ditotal bisa membutuhkan 4.000-an liter solar setiap harinya. Kalau dibatasi seperti ini tambak bisa berhenti," ungkap Bayu, Rabu (13/023/2019).

Bayu menyebut, para petambak mulai merasakan kesulitan mencari solar sejak satu bulan kemarin. Untuk bisa mendapatkan solar, para petambak diminta untuk membawa surat izin yang diterbitkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo. 

"Tapi ketika datang ke sana (Kantor DKP Kulon Progo) seperti dipersulit untuk membuat surat izin itu," kata Bayu.

Untuk membuat kincir tambak berputar, para petambak ini harus memutar otak untuk tetap bisa mendapatkan solar bersubsidi. Pasalnya, bila para petambak memaksa menggunakan solar non subsidi, ongkos yang dikeluarkan bakal membengkak.

"Pakai PertaDex, tapi tidak sering, karena selisih harganya sekitar Rp 4 ribu per liter. Biasanya kita menyedot solar dari truk," kata dia.

Bayu menyayangkan langkah pemerintah yang melakukan pembatasan bagi para petambak udang untuk mendapatkan solar. Bahkan para petambak beranggapan bahwa pemerintah berkeinginan untuk membuat para wirausaha menjadi buruh dan bekerja di proyek New Yogyakarta International Airport (NYIA) seiring rencana penataan kawasan di selatan proyek bandara.

"Sekarang pemerintah itu mau bagaimana? Ingin warganya berwirausaha atau menjadi buruh?" pungkas dia.