Buat Sapu dan Kusen, Warga Binaan Kumpulkan Rupiah Setelah Bebas
Sosial

Buat Sapu dan Kusen, Warga Binaan Kumpulkan Rupiah Setelah Bebas

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Tersandung kasus kriminal dan berakhir di ruang tahanan memang bukan keinginan semua orang. Hidup di dalam rumah tahanan tak melulu soal penahanan dan pengampunan, melainkan bagaimana menyadari kesalahan dan tetap berinovasi dan memiliki keterampilan.

Hal itulah yang tergambar di Rumah Tahanan (Rutan) Klas IIB Wates. Para warga binaan ini memiliki beragam kegiatan bermanfaat yang tak diketahui banyak orang. Di antaranya dengan membuat kusen kayu serta sapu lidi dan sapu ijuk. 

Dari hasil pembuatan seni rupa terapan ini, bahkan para warga binaan bisa mendapatkan tabungan berupa uang. Tabugan ini kelak bisa digunakan sebagai bekal hidup para warga binaan ketika bebas dari dalam rutan.

Tabungan yang didapat dari program ini pun terbilang lumayan, tergantung lamanya masa hukuman yang dijalani masing-masing warga binaan. Salah seorang mantan warga binaan Klas IIB Wates dulu sempat mendapatkan premi Rp2 juta setelah menjalani masa hukuman selama dua tahun dan ikut dalam program pembinaan keterampilan.

Kepala Rutan Klas IIB Wates, Deny Fajariyanto mengungkapkan bahwa pembuatan kusen kayu dan sapu ini merupakan program pembinan ketrampilan yang mulai dirintis oleh pihak rutan. Pihak Rutan Klas IIB Wates menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK) Kulon Progo untuk memberikan pelatihan keterampilan bagi warga binaan.

Hasilnya pun bisa dibilang memuaskan. Pasalnya, setelah mendapatkan pelatihan, para warga binaan ini bisa langsung mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari dari pelatihan. Untuk kusen kayu misalnya, hasil produksi warga binaan ini dimanfaatkan oleh Pemkab Kulon Progo untuk menunjang kebutuhan program bedah rumah.

"Jadi Pemkab setor kayu mentah ke rutan, kemudian kita garap. Setiap minggunya bisa dipakai dua sampai empat buah kusen untuk program bedah rumah," ungkap Deny, Jumat (15/03/2019) ketika mendampingi sejumlah warga binaan membuat kusen di lingkungan Rutan Klas IIB Wates.

Untuk pembuatan kusen, Deny menyebut bahwa pihak rutan tak mematok harga setiap kusennya. Hanya saja, pihak Pemkab Kulon Progo memberikan sejumlah uang guna ongkos pembuatan yang kemudian dikelola oleh Rutan Wates untuk premi bagi warga binaan dan biaya perawatan alat serta perkakas yang digunakan dalam pembuatan kusen. 

Sementara itu untuk pembuatan sapu lidi dan sapu ijuk, pihak Rutan Wates bekerja sama dengan pihak partikelir. Pihak partikelir menyetor bahan baku pembuatan sapu. Setelah diproduksi selama satu minggu di Rutan Wates, pihak partikelir akan kembali mengambil dan menjualnya. Dalam kerja sama ini, pihak Rutan Wates dan partikelir menggunakan sistem bagi hasil.

"Untuk sapu setiap minggunya bisa produksi sekitar 200-an batang. Terdiri dari 100 batang sapu lidi dan 100 batang sapu ijuk. Dari bagi hasil ini, warga binaan juga mendapatkan premi yang bisa diambil setelah bebas," sambung Deny.

Dikatakan Deny, program pembinaan ketrampilan ini baru berjalan sekitar 4 bulan. Terdapat sekitar 14-an warga binaan yang terlibat dalam program ini. Pasalnya, pihak Rutan Wates memiliki sejumlah kuifikasi sebelum menunjuk warga binaan untuk terlibat dalam program pembinaan keterampilan. Di antaranya asesment perawatan, asesment pembinaan dan asesment reintegrasi.

Program ini juga hanya diperbolehkan bagi warga binaan yang sudah bertatus narapidana. Pasalnya, sesuai regulasi yang berlaku, tahanan belum boleh dipekerjakan maupun dilibatkan dalam program pembinaan keterampilan apapun.

Deny menambahkan, guna memaksimalkan hasil produk pembinaan keterampilan Rutan Klas IIB Wates, pihaknya juga bakal mengikutkan karya warga binaan ini dalam pameran di Jakarta. Pameran tersebut bakal dihadiri oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

Selain itu, sambung Deny, pihak Rutan Wates juga membuka peluang kerjasama bagi para pelaku usaha di Kulon Progo. Para pelaku usaha yang membutuhkan tenaga kerja bisa bekerjasama dengan rutan seperti yang telah berjalan antara Rutan Wates dengan Pemkab Kulon Progo dalam pembuatan kusen serta pihak partikelir dalam pembuatan sapu.

"Kami terbuka bagi siapapun pelaku usaha, khususnya di Kulon Progo. Tentunya dengan biaya yang lebih murah. Kami juga akan memberikan akses untuk mengecek hasil kerja para warga binaan karena sesuai regulasi, pengerjaannya memang harus dikerjakan di dalam rutan," sambung Deny.

Menurut Deny, kerjasama seperti itu sah-sah saja dilakukan selama tak melanggar koridor terkait pembinaan warga binaan. Dengan kerjasama yang demikian ia meyakini bisa memberikan dampak positif bagi warga binaan agar bisa mendapatkan premi dan keterampilan baru.

Melalui kerjasama ini pula, ia berharap masyarakat di luaran sana bisa mengetahui bahwa orang-orang di dalam rutan dipelakukan secara manusiawi. Pasalnya, selama ini masih banyak orang yang beranggapan bila hidup di dalam rutan hanya melulu soal menjalani hukuman.

"Banyak warga binaan yang suka dengan program ini karena mendapatkan penghasilan. Setiap seminggu sekali kami juga mengadakan evaluasi agar setiap ada keluhan dari warga binaan bisa langsung kami tanggapi," kata Deny.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam program pembinaan keterampilan, Turwiyono (46) mengaku senang mendapatkan program pembinaan seperti ini. Ia mengaku bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mengasah keterampilannya. Bahkan ia berencana membuka usaha pembuatan kusen sendiri, ketika bebas nanti.

"Saya seneng dengan program ini. Saya berencana buka usaha seperti ini setelah keluar. Lumayan juga dapat premi. Ada tabungan setelah keluar dari sini," kata dia.