Sempat Tunjukkan Identitas Panwas, Janarta Tetap Jadi Sasaran Amuk Massa
Peristiwa

Sempat Tunjukkan Identitas Panwas, Janarta Tetap Jadi Sasaran Amuk Massa

Sentolo,(kulonprogo.sorot.co)--Apes betul nasib yang dialami oleh Janarta, salah satu anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwas) Desa Sentolo. Ia harus menerima lima jahitan pada kepala bagian belakang, usai jadi sasaran amuk massa pada Minggu (07/04) lalu di Pedukuhan Malangan, Sentolo, Kecamatan Sentolo.

Ketika ditemui sorot.co di rumahnya pada Senin (08/04), Janarta sempat menceritakan kronologi penganiayaan yang dialami olehnya. Ketika kericuhan terjadi, ia memang tengah bertugas melakukan pengawasan di wilayah Desa Sentolo. Sampai akhirnya, dirinya menerima informasi bila terjadi kerusuhan di Pedukuhan Malangan sekitar 16.30 WIB.

Simpatisan partai politik yang berada di Alun-alun Wates bergerak menuju Yogyakarta usai kampanye terbuka nasional yang dilaksanakan Tim Kampanye Daerah (TKD) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) DIY rampung dihelat. Jalanan sepanjang Pengasih hingga Sentolo sempat mengalami kepadatan akibat pergerakan massa.

"Jalanan padat, setelah kampanye di Alun-Alun Wates, masa hampir semuanya pakai atribut merah hitam pulang menuju Jogja," ungkap Janarta, Senin (08/04/2019).

Ketika aksi lempar batu dengan sasaran sejumlah warga pecah, Janarta memang mencoba menahan dan melerai massa. Namun secara tiba-tiba, Janarta justru menerima hantaman benda tumpul pada bagian belakang bahu dan kepalanya. 

"Ada massa yang lempar batu ke rumah warga. Ada juga yang mau mukul entah ke siapa pakai kayu. Saya tahan coba lerai, saya malah kena pukul. Padahal saya sudah menunjukkan kartu identitas Panwas," terang dia.

Setelah merasa dirinya dalam situasi yang tak aman, Janarta pun memutuskan untuk meninggalkan lokasi kejadian, dengan sejumlah luka pada bagian tubuhnya. Dengan bantuan seorang teman, Janarta memeriksakan kondisinya di Rumah Sakit Nyi Ageng Serang, Kecamatan Sentolo pada Minggu petang.

"Saat ini sudah mendingan kondisi saya. Di kepala ada lima jahitan. Terus di punggung ada dua bekas luka memar," katanya.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Rahmat Bagja mengatakan pihaknya akan mengumpulkan temuan-temuan atas kasus penganiayaan yang dialami Panwasdes Sentolo itu. Setelah semua alat bukti terkumpul, bukti-bukti bakal dianalisis di Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentragakumdu) Kulon Progo. Analisa menurutnya wajib dilakukan, lantaran memiliki risiko terjadi pelanggaran pidana pemilu.

"Ini jadi pelajaran untuk kita semua. Jadi pihak penyelenggara harus bertanggung jawab pada tiap-tiap elemen yang hadir," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor secara tiba-tiba menyerang rumah milik Sukarjo, Sindang Prastowo dan Serka Setyo Budi Haryanto. Kaca ketiga rumah tersebut pecah pada sejumlah bagian. Sejumlah kendaraan seperti mobil dan sepeda motor tak lepas dari sasaran massa.

Selain itu, Serka Setyo dan seorang anggota Panitia Pengawas (Panwas) Desa Sentolo bernama Janarta harus dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami luka. Keduanya mengalami luka robek pada kepala bagian belakang akibat menjadi sasaran amuk massa kala itu.