Peran Manusia Mulai Digantikan Mesin, Hemas Kunjungi Pabrik Rokok
Ekonomi

Peran Manusia Mulai Digantikan Mesin, Hemas Kunjungi Pabrik Rokok

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Perkembangan teknologi yang begitu pesat diprediksi bisa menggantikan tenaga manusia di perusahaan. Apalagi arus perubahan ekonomi semakin deras, teknologi diyakini bisa mengimbangi jumlah produksi yang lebih cepat.

Pola industri yang berubah dari tenaga manusia ke mesin mulai dialami di Yogyakarta, tak terkecuali Kulon Progo. Lambat laun, para pekerja manusia berkurang, digantikan perannya oleh mesin.

Adanya penurunan jumlah tenaga kerja di beberapa perusahaan di DIY membuat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas turun lapangan mengunjungi sejumlah tempat kerja di wilayah Kulon Progo. Salah satu lokasi yang dikunjungi pada Kamis (11/04/2019) yakni pabrik rokok milik Mitra Pabrik Sampoerna (MPS) PT Putra Adikarsa di Desa Giripeni, Kecamatan Wates.

Menurut Hemas, saat ini memang sedang terjadi penurunan jumlah tenaga kerja di beberapa perusahaan di DIY. Oleh karena itu ia ingin menengok langsung keadaan nyata di dalam kantor sekaligus untuk memastikan kondisi pabrik yang telah beroperasi sejak 2004 lalu.

"Jadi kita lagi mengunjungi beberapa tempat, karena memang DPD kan harus melihat karena penurunan tenaga kerja di beberapa perusahaan. Seperti kemarin kami ke MPI (PT Millennium Pharmacon International Tbk) di Sleman. Dari 2.000 sekian jumlah pekerjanya kini tinggal 1.000 sekian," kata istri Gubernur DIY, Sri Sultan HB X itu.

Hemas menyebut bahwa penurunan jumlah tenaga kerja ini karena lahirnya mesin-mesin di sektor industri. Mereka mulai tergantikan dengan tenaga robot yang lebih canggih untuk mempercepat proses produksi. Gempuran teknologi inilah yang membuat perusahaan kerap melakukan efisiensi. 

"Dari beberapa perusahaan rokok, mereka menggunakan teknologi yang lebih baik. Makanya tenaga kerja dikurangi karena produksi sudah cepat. Tapi itu harus diimbangi dengan pemasaran. Kalau pemasaran meningkat saya kira tidak ada masalah dengan pengurangan tenaga kerja," ujarnya.

Seperi di MPS sendiri, misalnya. Dikatakan oleh Direktur MPS PT. Putra Adikarsa, John Mosman bahwa jumlah tenaga kerja di tempatnya mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2004 yang merupakan awal beroperasinya perusahaan ini, terdapat sedikitnya 1.500 pekerja. Sedangkan hingga akhir 2018 lalu tercatat jumlah pekerja menyusut menjadi 800 jiwa.

"Sekarang ada bantuan alat potong. Dulu pakai gunting satu-satu. Tapi untuk saat ini semua bisa dibilang masih manual, hanya satu alat aja," kata dia.

Kendati sudah mengganti tenaga manusia ke mesin, namun MPS Wates justru ikut mengalami penurunan produksi bahkan hingga 20 persen. Diakui Mosman, penurunan produksi ini lantaran semakin bertambahnya jumlah MPS di Indonesia. Saat baru berdiri tahun 2004 lalu jumlah MPS baru 27 unit, kini telah mencapai 38 unit.