Terancam Pecah, Dualisme Kepengurusan Terjadi Pada Tubuh GBS
Peristiwa

Terancam Pecah, Dualisme Kepengurusan Terjadi Pada Tubuh GBS

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Organisasi sosial kemasyarakatan yang menamai dirinya sebagai Aliansi Masyarakat Sipil Kulon Progo Gerbang Bintang Selatan (GBS) tengah diguncang isu dualisme kepengurusan. Isu ini mulai beredar liar sejak beberapa waktu lalu.

Organisasi ini merupakan gabungan dua organisasi yang juga berbasis sosial kemasyarakatan. Kedua organisasi tersebut ialah Gerbang Desa serta Perhimpunan Bintang Selatan. Kedua organisasi ini kemudian menyatu menjadi Gerbang Bintang Selatan yang bervisi untuk mewujudkan masyarakat Kulon Progo yang mandiri dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Lantaran mengaku tak mampu memimpin GBS, pimpinan Gerbang Desa dan Perhimpunan Bintang Selatan memilih mundur. Kemudian Gendut Minarto ditunjuk sebagai nahkoda GBS pada 28 Oktober 2017 silam. Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengajuan akta pendirian organisasi pada Movember 2017 atau sebulan setelah dibentuk.

Mulanya keberadaan GBS mulai menjadi perhatian ketika PT. Angkasa Pura I memulai proses pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon. GBS menjadi jembatan atas suara warga Kulon Progo yang menginginkan keterlibatannya dalam mega proyek tersebut.

Sejumlah rentetan aksi tersebut membuahkan hasil. Kebutuhan pasokan material hingga tenaga kerja dalam pembangunan proyek bandara baru bisa menyerap tenaga kerja asal Kulon Progo.

Namun nyatanya organisasi yang secara tidak langsung menjadi jembatan aspirasi masyarakat ketika awal pembangunan bandara baru ini lajunya tak berjalan mulus. Salah satu penasihat organisasi ini menyatakan mundur pada 1 Juni 2020 kemarin.

Setelah pernyataan pengunduran diri oleh salah seorang penasihat yang juga merupakan pendiri, isu dualisme kepengurusan muncul. Beberapa anggota GBS mengaku mendapatkan informasi bila muncul struktur kepengurusan organisasi mengatasnamakan Gerbang Bintang Selatan.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua GBS, Gendut Minarto. Ia menyebut bila pihaknya memang telah mendengar adanya struktur organisasi dengan sejumlah nama yang sempat bergabung dalam kepengurusannya di GBS. Termasuk pendiri sekaligus penasihat yang menyatakan mengundurkan diri pada 1 Juni 2020 kemarin.

"Ada beberapa nama yang muncul di dalam struktur organisasi dengan nama GBS tersebut. Termasuk tiga nama yang mengundurkan diri juga ada di dalamnya," terang Minarto, Rabu (01/07/2020).

Meski isu dualisme kian liar beredar, namun Minarto mengaku tak terlalu ambil pusing. Menurutnya, bila memang struktur pengurus baru yang muncul tersebut bakal ikut mengajukan akta pendirian maka kendala bakal ditemui. Pasalnya, nama Gerbang Bintang Selatan telah terlebih dulu didaftarkan dengan nama-nama sebagian pengurus yang masih aktif sampai dengan saat ini. 

Selain itu, Minarto juga menilai bila struktur organisasi baru yang muncul justru condong ke arah untuk mencari keuntungan. Hal itu melenceng jauh dari visi dan misi didirikannya Gerbang Bintang Selatan, yakni untuk menjadi jembatan bagi aspirasi masyarakat Kulon Progo yang kala itu ingin terlibat secara langsung dalam pembangunan YIA.

"Sudah jelas bila sejak awal didirikannya GBS adalah untuk mendukung percepatan pembangunan bandara dan mendukung agar masyarakat Kulon Progo dilibatkan," imbuh Minarto.

Saat ini, kata Minarto, GBS justru memiliki tanggung jawab sosial yang besar setelah bandara beroperasi. Pasalnya, seiring dengan beroperasinya bandara, maka bakal lebih banyak lagi pembangunan-pembangunan parsial untuk menunjang keberadaan YIA.

GBS memiliki peran untuk terus menjembatani keinginan masyarakat Kulon Progo atas apa yang terjadi pada daerahnya, termasuk pembangunan.

"Apapun yang terjadi, saya akan terus mempertahankan visi dan misi GBS sejak awal terbentuk. Karena ini juga berkaitan dengan kepentingan banyak orang yang notabene-nya merupakan warga Kulon Progo," katanya.