Tradisi Gumregi dan Harapan Petani di Tengah Pandemi
Peristiwa

Tradisi Gumregi dan Harapan Petani di Tengah Pandemi

Girimulyo,(kulonprogo.sorot.co)--Para petani di Pedukuhan Sabrang, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo punya tradisi unik untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Ucap syukur itu diungkapkan dengan berbagai rangkaian acara. Salah satunya ialah melempar ketupat kepada hewan ternak piaraan para petani. Berikut laporan jurnalis sorot.co, Bambang Jati.

Pemandangan nampak begitu rindang di kawasan Bulak Wadas, Pedukuhan Sabrang, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo. Di salah satu petak sawah pasca panen yang tanahnya mulai mengering dampak musim kemarau, puluhan orang nampak duduk rapi di atas terpal dan tikar. Raut sumringah nampak di wajah mereka.

Dengan duduk melingkar namun tetap memperhatikan protokol kesehatan, secara khidmat mereka menundukkan kepala merapal doa atas melimpahnya hasil panen padi kali ini. Di tengah alas duduk, puluhan ketupat lengkap dengan berbagai lauk pauk dikumpulkan. Usai memanjatkan doa, satu per satu dari mereka mulai beranjak mengambil ketupat. Sebagian orang nampak melahap ketupat dengan lauk sederhana seperti tahu dan tempe bacem, sedangkan sebagian lagi nampak pergi menuju ke kandang sapi tak jauh dari lokasi.

Setibanya di kandang sapi milik salah seorang petani, seorang laki-laki tua yang dipercaya sebagai tokoh masyarakat nampak kembali merapal doa. Sejurus kemudian, ketupat yang sedari tadi dipegang di tangan kanannya dipukulkan secara pelan pada bagian kepala sapi yang terikat di dalam kandang. Setelah ketupat dipukulkan ke kepalanya, ketupat itu langsung dilahap oleh si sapi.

Tak hanya satu orang, sapi ini menerima pukulan pelan ketupat dari sejumlah orang secara bergantian. Setelah menerima pukulan, sapi ini pun melahap habis ketupat-ketupat tadi. Serangkaian acara tadi adalah bagian dari upacara adat Gumregi yang telah dilaksanakan warga setempat secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu.

Tradisi Gumregi biasanya dilakukan setalah masa panen usai. Hari penanggalan Jawa atau pasaran, yakni Selasa Kliwon selalu dipilih sebagai hari pelaksanaan upacara adat Gumregi. Tradisi satu ini adalah salah satu upaya warga Pedukuhan Sabrang yang sebagian besar bertani untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Tradisi ini sudah turun temurun. Selalu dilaksanakan setelah panen. Kami sebagai petani melalui tradisi ini ingin menyampaikan syukur atas hasil panen yang melimpah. Meski dalam keadaan pageblug [pandemi Covid-19], kami tetap diberi rezeki," kata salah satu petani dan tokoh masyarakat setempat, Sarjiman usai menggelar upacara adat Gumregi, Selasa (08/06/2021).

Tradisi memukul hewan ternak dengan ketupat kemudian diberikan untuk dimakan, kata Sarjiman, bukan bertujuan untuk menyakiti hewan ternak. Melainkan sebagai perwujudan terima kasih kepada hewan-hewan ternak. Sebelum maraknya penggunaan traktor mesin untuk membajak sawah, para petani di Pedukuhan Sabrang mengandalkan tenaga sapi dan kerbau untuk menarik bajak. 

Hewan ternak para petani ini, diharapkan juga seperti filosofi ketupat, yakni kuat dan mingsul-mingsul (berisi dalam Bahasa Jawa). Hewan ternak diharapkan tumbuh dan hidup sehat, kuat, dan berisi untuk diajak menggarap sawah.

"Melempar ataupun memukulkan ketupat pada hewan ternak ini banyak sekali maknanya. Sebagai ungkapan terima kasih untuk hewan ternak, bisa juga menunjukkan adanya perhatian antara pemilik ternak dengan hewan ternaknya," imbuh Sarjiman.

Setelah usai melakukan tradisi memukul ketupat pada hewan ternak, acara dilanjutkan dengan santap bersama atau kembul bujana. Hal ini bagi para petani juga memiliki arti, sebagai simbol kebersamaan dan kerukunan. Baik ketika masa tanam, masa panen, bahkan hingga pasca panen.

Disebut Sarjiman setidaknya ada sekitar 150-an orang warga Pedukuhan Sabrang yang bermatapencaharian sebagai petani. Mereka menggarap lahan sawah seluas lebih dari 30 hektar yang membentang dari Pedukuhan Sabrang hingga sebagian Pedukuhan Wadas.

Pada pelaksanaan upacara Gumregi kali ini, para petani Pedukuhan Sabrang juga memiliki harapan khusus. Yakni harapan segera berakhirnya pandemi Covid-19. Sehingga para petani dan warga lainnya bisa beraktivitas seperti biasa.

Lantaran pandemi pula, upacara Gumregi kali ini dihelat sederhana. Biasanya, para petani yang terlibat dalam upacara ini turut serta membawa hewan ternaknya ke area pelaksanaan upacara. Mereka beramai-ramai memukul hewan ternaknya. Tak seperti kali ini, hanya seekor sapi yang kandangnya tak jauh dari lokasi acara.

"Karena pageblug juga, jadi kami tetap mematuhi aturan pemerintah. Kita laksanakan tradisi Gumregi ini secara sederhana, namun tetap penuh makna," terang Sarjiman.

Cahya Pratama Ramadhani, salah seorang warga mengaku tak pernah absen mengikuti upacara adat Gumregi setiap tahunnya. Ia mengaku ingin turut melestarikan tradisi warisan leluhur. Pun dengan mengungkapkan sara syukur atas hasil panen keluarganya tahun ini.

"Yang jelas ingin ikut andil melestarikan kebudayaan dan tradisi warisan leluhur. Selain itu, juga senang bisa makan bersama dengan warga lainnya di pinggir sawah. Meskipun sederhana, tapi kebersamaannya begitu terasa," terang wanita berusia 30 tahun ini.