Dampak Pandemi, Omzet Produsen Olahan Pangan Berbahan Dasar Lidah Buaya Anjlok
Ekonomi

Dampak Pandemi, Omzet Produsen Olahan Pangan Berbahan Dasar Lidah Buaya Anjlok

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Penjualan produk olahan pangan menjadi salah satu sektor ekonomi yang ikut kena pukulan telak akibat pandemi Covid-19. Sejumlah pelaku UMKM dituntut untuk memutar otak agar usahanya tetap berjalan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu pelaku UMKM yang ikut terkena dampak akibat pandemi Covid-19 ialah pasangan suami istri Christyaningsih dan Bambang Suryanto, warga Pedukuhan Dukuh, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih. Produsen olahan pangan berbahan dasar lidah buaya ini mengaku mengalami penurunan omzet sejak masa pandemi virus Corona.

Bahkan kita sampai menutup beberapa outlet kami. Kita juga sempat tidak produksi beberapa hari, kata Christyaningsih pada Rabu (04/08/2021).

Usaha yang ia tekuni sejak September 2019 lalu itu diakui Christyaningsih sempat naik daun. Ketika itu, dirinya mengolah lidah buaya menjadi cendol yang menjadi primadona di kalangan mahasiswa. 

Sejumlah outlet milik pasangan suami istri ini sempat ditemui di beberapa titik di Kota Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, ketika itu Christyaningsih dan suaminya bisa meraup omzet hingga Rp 6 juta setiap bulannya.

Untuk kebutuhan cendol saja, kami olah satu kilogram lidah buaya setiap hari. Belum produk yang lain, ucapnya.

Dikatakan oleh Christyaningsih, usaha ini ia geluti bersama suaminya usai melihat banyaknya petani lidah buaya yang kesulitan memasarkan hasil panen. Padahal, khasiat lidah buaya bagi kesehatan begitu banyak.

Salah satunya bisa mengatasi asam lambung. Ia kemudian berinisiatif untuk membuat aneka olahan dari tanaman berkhasiat tersebut.

Untuk camilan stik, saya padukan dengan daun kelor agar lebih kaya vitamin, ungkapnya.

Gayung bersambut, beragam produk yang dibuat Christyaningsih begitu diminati masyarakat. Christyaningsih bahkan sempat kewalahan. Ia kemudian memperkerjakan dua karyawan untuk membantu proses produksi.

Selain dipasarkan melalui outlet, produk olahan lidah buaya itu juga dipasarkan melalui supermarket, toko oleh-oleh. Belakangan, produknya juga ikut dipasaekan di area Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon.

Namun sayang, kondisi itu tidak berlangsung lama. Pandemi Covid-19 yang melanda memukul telak usahanya. Produk olahan lidah buaya milik Christyaningsih akhirnya sepi pembeli.

Setelah menutup outlet dan berhenti produksi, kini saya mulai bangkit. Produksi olahan lidah buaya kembali berjalan, namun berbeda pemasaran. Sekarang saya lebih gencar memasarkan produk melalui medsos, imbuhnya.

Christyaningsih bekerja keras memasarkan produknya secara daring melalui aplikasi Whats App juga Instagram. Upaya tersebut berbuah manis lantaran ternyata cukup banyak konsumen yang tertarik membeli produknya. Bahkan kini, pemasaran produk olahannya bisa sampai ke berbagai kota di seluruh Indonesia.

Alhamdulillah, sekarang usaha saya sudah mulai bergeliat lagi. Mudah-mudahan kondisi ekonomi yang terdampak pandemi Covid-19 segera pulih sehingga perjalanan usaha-usaha kecil seperti milik saya ini bisa kembali lancar, harapnya.