Pemulasaraan Jenazah Keluarga Lama, Warga Protes Pemerintah Kalurahan
Peristiwa

Pemulasaraan Jenazah Keluarga Lama, Warga Protes Pemerintah Kalurahan

Pengasih,(kulonprogo.sorot.co)--Pemerintah Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih beserta satgas Covid-19 setempat sempat menerima protes dari warga. Protes tersebut berkaitan dengan proses pemulasaraan jenazah salah seorang warga Pedukuhan Gegunung yang dinilai oleh pihak keluarga terlalu lama.

Aksi protes tersebut berakhir dengan mediasi yang dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kalurahan Sendangsari pada Jumat (06/08/2021) siang. Sejumlah perwakilan anggota keluarga dari warga yang meninggal dengan status terkonfirmasi positif Covid-19, perwakilan Pemerintah Kalurahan Sendangsari, perwakilan Puskesmas Pengasih I serta sejumlah personel Satgas Covid-19 Kalurahan Sendangsari.

Permasalahan ini bermuara pada proses pemulasaran jasad ayah Rubini pada Jumat (30/07) malam lalu. Sebelum meninggal, ayah Rubini sempat menunjukkan gejala Covid-19, mulai dari batuk-batuk dan demam. Ayah Rubini kemudian dinyatakan meninggal pada Jumat malam sekitar pukul 23.00. Sebagai langkah antisipasi, kemudian dilakukan tes usap antigen terhadap jasad ayah Rubini, dengan hasil terkonfirmasi positif Covid-19.

Berdasarkan hasil tes usap tersebut, proses pemulasaraan jenazah mesti menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Proses itu mestinya dilakukan di rumah sakit dengan tenaga kesehatan yang mengetahui proses pemulasaraan jenazah. Akhirnya, jasad ayah Rubini baru dikebumikan pada Sabtu (31/07) lantaran pemulasaraan baru bisa dilakukan pada Sabtu pagi.

Ketika menunggu petugas yang hendak melakukan pemulasaraan jenazah, pihak keluarga mengambil sejumlah kesimpulan. Bahkan sempat mempertanyakan keabsahan hasil tes usap antigen spesimen dari jasad ayah Rubini. Padahal tes usap antigen tersebut dilakukan oleh petugas Puskesmas Pengasih I.

Memang kami sebelumnya kurang begitu paham terkait proses pemulasaraan jenazah. Kami tidak tahu bagaimana kinerja relawan. Sekarang kami sadar kalau keliru, kata Rubini pada Jumat (06/08/2021) usai mediasi di Kantor Kalurahan Sendangsari.

Disebut Rubini, dirinya merasa tercerahkan setelah mendapatkan penjelasan dari sejumlah pihak terkait. Meski sempat vokal ketika mediasi berlangsung, ia langsung meminta maaf kepada sejumlah relawan dan perwakilan Pemerintah Kalurahan Sendangsari usai mediasi. 

Di sisi lain, peristiwa ini ia harapkan bisa menjadi evaluasi bagi penanganan pandemi Covid-19. Ketika itu Rubini mengaku sempat kesal lantaran sejumlah relawan satgas Covid-19 setempat tak kunjung memulasarakan jasad ayahnya. Padahal, proses pemulasaraan jenazah dengan status terkonfirmasi positif Covid-19 mesti menempuh sejumlah proses, mulai dari koordinasi lintas sektoral.

Kami harap kejadian ini bisa menjadi evaluasi bersama. Kasian pihak keluarga jenazah yang Covid-19 kalau jenazah tidak langsung dimakamkan, imbuh Rubini.

Panewu Pengasih, Triyanto Raharjo menyebut bila selisih paham tersebut telah selesai. Pihak keluarga telah menerima seluruh keterangan yang diberikan terkait informasi proses pemulasaraan jenazah dengan status terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari hasil klarifikasi, sebenarnya proses penanganan jenazah sudah sesuai dengan prosedur penanganan jasad Covid-19. Hanya saja memang pihak keluarga tidak sabar. Tapi semunya sudah clear, kata Triyanto.

Dikatakan Triyanto, proses penanganan jenazah positif Covid-19 memang berbeda dan panjang. Diakuinya bila proses tersebut memang kerap membuat pihak keluarga yang berduka bertanya-tanya. Hanya saja, proses itu tak bisa diabaikan begitu saja lantaran untuk menjaga kondisi kesehatan masyarakat.

Kita sampaikan semuanya jalau prosesnya memang memakan waktu lama. Tapi kami berharap pihak keluarga tetap bersabar dan mendukung upaya satgas Covid-19 yang bertugas. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi, tutup Triyanto.