Dituduh Selingkuh, Warga Panjatan Jadi Korban Penganiayaan Pensiunan Polisi
Hukum & Kriminal

Dituduh Selingkuh, Warga Panjatan Jadi Korban Penganiayaan Pensiunan Polisi

Panjatan,(kulonprogo.sorot.co)--Warga Pedukuhan IV, Kalurahan Gotakan, Kapanewon Panjatan bernama Nantyo (54) menjadi korban penganiayaan oleh oknum pensiunan polisi berinisial Is (60), warga Pedukuhan Kauman, Kalurahan Tirtorahayu, Kapanewon Galur. Penganiayaan ini terjadi pada Senin (04/10) lalu.

Kasubbag Humas Polres Kulon Progo, Iptu Nengah Jeffry membenarkan adanya laporan tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima oleh Polsek Galur pada Jumat (08/10), Nantyo menerima penganiayaan di rumah pelaku.

"Kejadian ini bermula ketika korban diminta datang ke rumah pelaku. Setelah masuk ke dalam rumah, pelaku langsung mengunci seluruh pintu dan jendela rumahnya," kata Jeffry, Sabtu (09/10/2021).

Sesaat setelah itu, pelaku kemudian mengambil sebilah celurit dari dalam kamar dan kembali ke ruang tamu. Pelaku kemudian melemparkan clurit itu ke lantai, dan meminta korban untuk mengambilnya. Namun permintaan itu tak dituruti oleh korban. 

Pelaku masih menekan pelaku dengan meminta melepas baju dan celana panjang korban. Hal itu dituruti korban, hingga dirinya hanya mengenakan celana pendek, meskipun ketika itu pelaku tak sendirian, melainkan bersama istrinya.

"Pelaku kemudian memumukul wajah korban sebanyak lima kali. Pelaku kembali mengambil clurit dan mengalungkannya pada tubuh korban, sambil memaksa korban untuk mengakui perbuatan perselingkuhan dengan istri pelaku," imbuh Jeffry.

Lantaran merasa tak melakukannya, korban kemudian enggan menuruti permintaan pelaku. Akibatnya, pelaku kembali memukuli korban sebanyak tujuh kali pada bagian wajah.

Clurit yang terjatuh kembali diambil pelaku untuk dikalungkan pada tubuh korban. Pelaku kembali memaksa korban untuk mengakui perbuatannya, sambil mengancam akan membunuh korban bila enggan mengaku.

"Karena takut dengan ancaman, korban kemudian terpaksa mengaku. Setelah itu, korban masih menerima pukulan dari pelaku sebanyak tujuh kali," sambung Jeffry.

Setelah terpaksa mengaku, pelaku masih meminta korban untuk membayar denda uang senilai Rp 400 juta. Lantaran masih merasa ketakutan, korban mengiyakan permintaan pelaku.

Baru setelah itu, korban diperbolehkan meninggalkan rumah pelaku. Namun pelaku masih mengancam korban agar tidak melaporkan kejadian yang ia alami kepada polisi. Bila korban melaporkan, maka pelaku mengancam akan membunuh korban.

"Namun merasa semakin terancam, korban tetap melaporkan kejadian ini kepada pihak Polsek Galur. Saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan,"tutup Jeffry.