Mengintip Logo Resmi Hari Jadi ke-70 Kulon Progo yang Menuai Kritik Netizen
Peristiwa

Mengintip Logo Resmi Hari Jadi ke-70 Kulon Progo yang Menuai Kritik Netizen

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Kabupaten Kulon Progo genap berusia 70 tahun pada 15 Oktober 2021 mendatang. Dengan usianya yang semakin matang, tak sedikit warga Bumi Binangun yang memiliki banyak harapan agar pencapaian wilayahnya semakin baik. Terutama dalam memulihkan ekonomi dan penanganan Covid-19.

Pada usaianya pula yang ke-70 tahun, sejumlah prestasi turut ditorehkan oleh Kulon Progo dalam berbagai bidang. Tentunya hal ini mesti dijadikan sebagai cambuk agar Kulon Progo semakin baik kedepannya.

Namun dari sekian banyak prestasi yang dituai dan harapan yang disematkan setinggi mungkin, tak sedikit warga Kulon Progo yang baru-baru ini dibuat kecewa. Alasannya ialah kemunculan logo resmi HUT ke-70 Kulon Progo yang disebut tidak menarik dan terkesan asal-asalan.

Logo resmi tersebut bisa dilihat dan diunduh melalui laman resmi Pemkab Kulon Progo. Logo itu juga ditampakkan dalam Surat Edaran (SE) Bupati Kulon Progo tentang Tema dan Logo Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo ke-70 Tahun 2021. SE bernomor 1000/3288 itu dikeluarkan pada tanggal 1 Oktober 2021.

Dalam surat itu, Pemkab Kulon Progo mengambil tema Kulon Progo Gumregah, Kita Sehat, Ekonomi Bangkit pada peringatan hari jadi ke-70. Pada SE itu pula dijelaskan secara detil makna dari logo resmi HUT ke-70 Kulon Progo.

Namun meski memiliki makna yang sarat harapan dan target pencapaian, banyak warga yang membicarakan soal tampak logo resmi ini di sejumlah sosial media. Mayoritas dari mereka menyayangkan tampak logo yang tidak dibuat secara menarik serta dengan warna yang tidak senada atau terkesan bertabrakan.

Ketika dikonfirmasi sorot.co, Sekretaris Panitia Hari Jadi ke-70 Kabupaten Kulon Progo, Duana Heru Supriyanta mengaku telah mengetahui soal logo resmi yang kini tengah diperbincangkan banyak orang. Duana menyebut, sebelum diketok sebagai logo resmi, pihaknya telah menyiapkan sejumlah pilihan logo. Namun dari beberapa pilihan, logo yang kini jadi viral itulah yang dipilih sebagai logo resmi.

Duana menyebut tak ada dana khusus yang dialokasikan untuk pembuatan logo ini. Pihaknya juga mengakui bila memang tak melakukan uji publik terkait logo resmi tersebut.

"Sebenarnya ada beberapa pilihan, dipilih satu dan ditetapkan sebagai logo resmi. Tidak ada dana untuk pembuatan logo ini," kata Duana melalui sambungan telepon pada Sabtu (09/10/2021).

Duana mengatakan bila sebenarnya melihat banyaknya usulan dari warga agar logo resmi saat ini diganti bisa saja dilakukan. Hanya saja, logo resmi tersebut telah beredar di berbagai kalangan. Di sisi lain, hari jadi Kulon Progo tinggal menghitung hari. Sehingga waktu yang begitu mepet serta kondisi yang demikian membuat kemungkinan mengganti logo sulit dilakukan. 

Sejumlah usulan maupun kritik yang diterima pihaknya, kata Duana, bakal dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk persiapan peringatan hari jadi Kulon Progo mendatang. Termasuk di antaranya wacana melakukan uji publik terhadap rancangan logo resmi. Muncul pula wacana untuk menggelar sayembara pembuatan logo resmi HUT Kulon Progo.

"Untuk mengadakan sayembara mungkin saja. Nanti kita rumuskan. Semisal dengan menggandeng beberapa pihak melalui CSR," imbuh Duana.

Pihaknya, imbuh Duana, merasa berterima kasih atas masukan warga terhadap logo resmi HUT Kulon Progo tahun ini. Pihaknya mengaku sangat terbuka terhadap kritik dan saran untuk kepentingan Kulon Progo.

Salah satu seniman karya digital atau pelaku desain grafis asal Kapanewon Wates, Nosa Pramana mengaku cukup terkejut dengan kemunculan logo resmi tersebut. Menurutnya, pembuatan logo resmi untuk keperluan peringatan HUT Kulon Progo ataupun acara serupa mestinya dikerjakan oleh putra daerah yang memiliki keterampilan dalam bidang desain grafis.

"Karena karya visual itu merupakan representasi pesan dan harapan yang akan dilihat oleh masyarakat," terang pria berusia 37 tahun tersebut.

Sosok yang telah belasan tahun terjun dalam dunia desain grafis ini mengaku menemukan sejumlah kelemahan pada logo resmi HUT ke-70 Kulon Progo. Di antaranya ialah pemilihan latar belakang logo yang terlalu mencolok, hingga elemen logo yang dinilai tidak terlalu kuat.

"Pemilihan warna latar belakang pada logo justru membuat elemen logo, yakni tulisan terlihat lemah dan terdistraksi," kata Nosa.

Bila melihat keseluruhan rupa logo, Nosa menyebut bila pengerjaan logo terkesan terburu-buru dan dengan kemampuan yang terbatas. Ia berharap, ke depannya Pemkab Kulon Progo bisa melibatkan para seniman karya digital dalam pembuatan logo resmi.

"Kami berharap kalau bisa ada sayembara pembuatan logo, sehingga semuanya bisa terkurasi dan terlihat betul pesan dan harapan yang ingin disampaikan melalui sebuah logo," imbuh Nosa.

Senada dengan Nosa, seniman karya digital lainnya, Himawan Ardhi mengatakan bila semestinya Logo resmi HUT ke-70 Kulon Progo bisa dibuat lebih maksimal. Pun ia berharap Pemkab Kulon Progo bisa turut melibatkan para pelaku yang terjun langsung pada bidang desain grafis untuk membuat logo tersebut.

Seniman asal Kapanewon Girimulyo ini mengaku kecewa dengan tampak logo resmi HUT ke-70 yang disebutnya melanggar aspek dasar kelayakan sebuah logo secara teknis, dan tidak memenuhi syarat keindahan secata estetika.

"Sebuah logo secara teknis harus memenuhi beberapa aspek, mulai dari tingkat keterbacaan, keharmonisan warna, komposisi dan beberapa aspek lainnya," kata pria berusia 29 tahun ini.

Sosok yang memang lebih mendalami pembuatan logo pada dunia desain grafis ini menyebut secara estetika, logo resmi HUT ke-70 Kulon Progo tidak memenuhi syarat keindahan. Pada logo itu, nampak adanya pencampuran lebih dari satu tema dan satu gaya dalam satu logo.

"Pencampuran ini membuat logo menjadi ridak jelas dan tidak bisa dipertanggung jawabkan secara tema. Saya berharap, ke depannya pembuatan logo lebih matang atau mungkin bisa diuji publik," tutup Ardhi.