Melihat Lebih Dekat Rumah Sahabat Kocheng, Didirikan Demi Wujudkan Mimpi Mendiang Istri
Sosial

Melihat Lebih Dekat Rumah Sahabat Kocheng, Didirikan Demi Wujudkan Mimpi Mendiang Istri

Wates,(kulonprogo.sorot.co)--Mewujudkan mimpi orang terkasih tentu membuat seseorang kerap kali berjuang lebih keras. Seperti halnya yang dilakukan oleh Budiyana (41). Pria asal Kuningan, Jawa Barat itu kini memiliki sebuah rumah yang diperuntukkan untuk menampung ratusan kucing tanpa tuan di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Berikut laporan reporter sorot.co.

Ketika datang, sebuah papan bertuliskan Rumah Sahabat Kocheng (RSK) akan menyambut. Memang demikian namanya, rumah di area pekarangan sisi selatan rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) Giripeni ini diperuntukkan bagi kucing-kucing telantar hingga bertemu dengan tuan barunya.

Lokasinya tak jauh dari Jalan Nasional III atau ruas Jalan Jogja-Wates. Tepatnya di Pedukuhan Gunung Gempal, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates. Di tempat ini, ratusan kucing dirawat oleh sejumlah relawan.

Sosok dibalik RSK adalah Budiyana. Berawal dari impian mendiang sang istri yang bernama Kristin ingin membangun rumah untuk merawat kucing-kucing liar, Budiyana kemudian mulai mewujudkannya pada medio tahun 2014 silam.

Dia sering bilang pengen banget bikin rumah yang isinya kucing-kucing liar, jadi bukan di kontrakan, bukan di rumah kecil, tapi rumah yang besar, ada kucing liar. Nah sampai meninggal tahun 2007, terus 13-14 tahun atau lebih saya berusaha mewujudkan itu sampai sekarang,” ujar Budiyana kepada wartawan, Senin (08/08/2022).

Budiyana mengaku bila awalnya ia tak begitu menyukai ataupun membenci kucing. Perlahan kecintaannya terhadap kucing tumbuh setelah ia menjalin hubungan rumah tangga dengan mendiang istrinya. Sang istri merupakan sosok pencinta kucing. 

Perjuangan untuk mewujudkan impian mendiang istri membawa Budiyana untuk mengelola tiga RSK. Satu berada di Kulon Progo, sedangkan dua lainnya berada di Jawa Barat, tepatnya di Kuningan dan Bandung.

Budiyana mendirikan RSK sebagai shelter untuk kucing-kucing yang telantar, baik kucing liar maupun kucing piaraan yang secara darurat terpaksa dilepas pemiliknya. Di tempat ini pula, warga bisa mengadopsi kucing.

Fokus atau visi misinya untuk merescue kucing dan memberikan mereka tempat berteduh, tempat yang layak dan merawat mereka, dan untuk menyalurkan lagi ke orang-orang yang mau adopsi. Kalau mau pelihara kucing enggak usah beli, datang aja Rumah Sahabat Kocheng, intinya seperti itu,” imbuh Budiyana.

Hingga saat ini ada ratusan ekor kucing berbagai jenis yang dirawat oleh Cowboy Kucing, julukan Budiyana. Namun secara pasti ia tak mengetahui jumlah kucing yang telah ia rawat lantaran saking banyaknya kucing.

Jadi ada kucing kampung, atau domestik, ada kucing mixdom (hasil campuran kucing ras), ada Persia ada Anggora juga yang udah bukan asli sih,” ucapnya.

Selain diberikan tempat dan pakan yang layak, kucing-kucing di RSK juga mendapat penanganan medis dari tim khusus bentukan tempat penampungan ini. RSK bahkan memiliki ambulance sendiri yang diberikan 'Anabulance'.

Kendaraan ini digunakan untuk mengevakuasi kucing sakit dan terlantar. Tempat penampungan ini juga bekerjasama dengan dokter hewan dan puskeswan setempat untuk menangani kucing dengan penyakit serius.

Kalau sakitnya masih bisa ditangani sendiri, kita ada tim perawatan. Tapi kalau sudah masuk kategori serius, kita bawa ke dokter. Ada beberapa yang kerjasama, seperti Savannah, Puskeswan Wates dan Panjatan,” kata Budiyana.

Budiyana berencana untuk membuka klinik sendiri. Hal itu bertujuan agar kucing-kucing yang ia rawat lebih terpantau kondisi kesehatannya. Ia bercita-cita, ada satu atau dua dokter hewan yang akan membantu di klinik bentukannya mendatang.

Guna memenuhi kebutuhan merawat ratusan ekor kucing, Budiyana dengan tegas mengatakan tak mau menggalang donasi. Ia memilih merogoh kocek pribadi dan membikin beberapa unit usaha yang hasilnya digunakan untuk merawat kucing seperti membeli pakan dan keperluan lainnya.

Kita ada usaha angkringan, petshop ada jual merchendise atau pernak-pernik yang ada tulisannya RSK juga. Kita juga buat TikTok dan YouTube yang saat ini sudah menghasilkan,” kata Budiyana.

Adapun pengeluaran RSK per bulannya mencapai Rp 30 jutaan. Ini terdiri dari biaya pakan yang mencapai angka Rp 10 juta serta operasional lain seperti pembayaran upah karyawan dan unit usaha RSK sekitar Rp 25 juta.

Saya enggak pernah ngitung, tapi kalau dipaksa ngitung itu lebih dari Rp 10 juta untuk makanan aja. Untuk gaji yang kerja itu kemarin bisa sampai Rp 25 juta, 15 karyawan, makanya saya udah enggak kuat karena usaha enggak jalan, ini saya kurangin setengahnya jadi sekarang 8 orang yang kerja,” jelasnya.

Bagi warga yang ingin mengadopsi kucing dari RSK, Budiyana mematok sejumlah syarat. Salah satunya bersedia bertanggung jawab memastikan kucing yang diadopsi selalu terawat.

Untuk adopsi kucing harus dirawat dengan baik, ketika sakit harus dibawa ke dokter, datang ke sini harus bawa keranjang enggak boleh kardus, kemudian satu minggu atau dua minggu sekali harus ngabarin ke saya. Ketika sakit harus benar-benar dirawat sampai sembuh jangan dikembalikan ke Rumah Sahabat Kocheng,” tuturnya.

Ia sempat mengalami pengalaman yang membuatnya menerapkan aturan itu. Ia pernah menerima pengadopsi yang justru menjual kucing yang diadopsi dari RSK. Tak hanya sekali, oknum ini datang berkali-kali untuk mengadopsi kucing ras tertentu.

Untuk syarat hibah di RSK haruslah kucing dengan kondisi yang darurat. Seperti misalnya pemilik pindah ke daerah lain namun tidak bisa menyertakan kucingnya. Hal ini biasanya dialami oleh mahasiswa luar daerah yang indekos di Jogja.

Salah satu cat lover, Siama Hidayani mengaku datang ke RSK untuk menghibahkan beberapa ekor kucing. Alasannya karena sudah tidak sanggup merawat kucing-kucing tersebut.

Karena saya merasa sudah tidak sanggup merawat. Sebetulnya itu kucing liar, biasanya saya kasih makan di luar rumah itu, tapi terus dia melahirkan di tempat saya, otomatis harus saya tampung sampai lebih besar. Terus temen saya kasih informasi ada Rumah Sahabat Kocheng, akhirnya saya bawa ke sini setelah anak-anaknya sudah cukup besar untuk saya bawa,” ucap perempuan asal Sleman itu.